Strategi Win-Win Indonesia Amerika di Tengah Dinamika Tarif AS

Presiden Prabowo Subianto
Sumber :
  • Istimewa

VIVA - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) memastikan komitmen penguatan kemitraan dagang berbasis keberlanjutan dengan eksportir kayu keras Amerika Serikat yang tergabung dalam American Hardwood Export Council (AHEC) tetap berlanjut, meskipun Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif resiprokal.

Jepang, China, dan Amerika Berebut Dominasi Teknologi, Siapa Terdepan?

Keputusan tersebut muncul setelah sebelumnya Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani Agreement on Reciprocal Tariff (ART) pada 18 Februari 2026. 

ASMINDO menilai, terlepas dari dinamika kebijakan tarif, kerja sama strategis sektor furnitur kedua negara memiliki nilai jangka panjang dalam memperkuat rantai pasok global industri berbasis kayu.

Danantara Indonesia Transformasi Jumbo 258 BUMN, Ultimatum Presiden

Ketua Umum ASMINDO, Dedy Rochimat, menyampaikan apresiasi atas upaya Pemerintah Indonesia dalam merampungkan perjanjian ART. 

Menurutnya, kesepakatan tersebut membuka peluang akses perdagangan yang lebih kompetitif bagi produk furnitur nasional di pasar Amerika Serikat.

Tommy Kurniawan Bandingkan MBG dengan Jepang dan Inggris

Kemitraan Berbasis Keberlanjutan dan Daya Saing Ekspor

Dedy menegaskan bahwa kolaborasi dengan anggota AHEC tidak dimaksudkan untuk menggantikan kayu domestik sebagai bahan baku utama industri nasional. 

Sebaliknya, pemanfaatan American hardwood diposisikan sebagai alternatif material premium guna memperkaya variasi produk dan memenuhi standar desain pasar global bernilai tinggi.

“Kolaborasi ini berbasis prinsip keberlanjutan dan kepatuhan legal. Yang diimpor adalah bahan baku, sementara nilai tambah manufaktur, desain, dan ekspor tetap dilakukan di Indonesia,” ujar Dedy.

Saat ini, belanja industri furnitur Indonesia terhadap American hardwood diperkirakan mencapai sekitar USD 30 juta per tahun. 

Dengan proyeksi peningkatan ekspor furnitur nasional ke Amerika Serikat pasca-ART, kebutuhan bahan baku kayu keras Amerika diperkirakan dapat meningkat hingga USD 100 juta dalam beberapa tahun ke depan.

ASMINDO menilai kenaikan tersebut merupakan konsekuensi logis dari pertumbuhan produksi furnitur ekspor yang memadukan kayu lokal dan kayu keras impor premium untuk menyasar segmen menengah-atas dan premium.

Perkuat Rantai Pasok Global Furnitur Indonesia

Kemitraan ini mencakup penjajakan penggunaan kayu keras Amerika untuk berbagai kategori produk, seperti solid wood furniture, komponen interior, serta kerajinan kayu berorientasi ekspor ke pasar Amerika Serikat dan Eropa, termasuk pasar premium domestik.

Halaman Selanjutnya
img_title