Agenda UNESCO Tetap Berjalan Meski Ada Polemik Internal KLB KOWANI

Polemik KLB KOWANI Mengemuka
Sumber :
  • Istimewa

VIVA – Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) menyampaikan sikap resmi terkait kegiatan yang disebut sebagai Kongres Luar Biasa (KLB) yang digelar oleh sejumlah pihak pada 3 Juni 2026 di Jakarta.

Dualisme Kadin Berujung Gugatan Rp20 Miliar, Polemik Berlanjut

Dalam keterangannya, pengurus KOWANI yang saat ini menjabat menyatakan pelaksanaan KLB tersebut dinilai tidak sesuai dengan ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi.

Menurut KOWANI, hasil yang dihasilkan dalam forum tersebut tidak dapat dijadikan dasar pembentukan kepengurusan baru karena dinilai belum memenuhi sejumlah ketentuan organisasi yang berlaku.

Konflik Kadin Jabar Belum Usai, Mediasi Lanjut 16 Februari 2026

Wakil Ketua Umum KOWANI, Atiek Sardjana, mengatakan organisasi saat ini tetap berjalan dan aktif menjalankan berbagai program kerja sehingga tidak berada dalam kondisi yang mengharuskan penyelenggaraan KLB.

Ia menyebut pelaksanaan KLB harus memenuhi sejumlah persyaratan sebagaimana diatur dalam AD/ART, termasuk dukungan dari anggota dalam jumlah tertentu serta alasan yang memenuhi ketentuan organisasi.

Gugatan Dualisme Kadin Jabar Masuk Tahap Mediasi

"KOWANI tetap berjalan aktif dengan berbagai program strategis sehingga tidak ada alasan konstitusional untuk penyelenggaraan KLB," kata Atiek dalam keterangan yang diterima media.

Senada dengan itu, anggota Dewan Pertimbangan KOWANI, Prof. Popy Rufaidah, menegaskan bahwa hasil Kongres XXIV KOWANI yang telah berlangsung sebelumnya merupakan keputusan forum tertinggi organisasi dan berlaku selama tidak dibatalkan melalui mekanisme yang diatur dalam AD/ART.

Kepemimpinan Hasil Kongres 2024 Disebut Masih Berlaku

Dari sisi hukum organisasi, Prof. Siti Nur Azizah Ma’ruf yang tergabung dalam Tim Ahli Hukum KOWANI menyampaikan bahwa kepemimpinan organisasi saat ini masih merujuk pada hasil Kongres KOWANI Tahun 2024.

Menurutnya, Ketua Umum KOWANI saat ini adalah Nannie Hadi Tjahjanto yang terpilih melalui mekanisme kongres organisasi. Ia menambahkan bahwa setiap perubahan kepemimpinan harus dilakukan melalui forum dan prosedur yang sesuai dengan ketentuan organisasi.

Di tengah dinamika internal yang terjadi, KOWANI menyatakan berbagai program organisasi tetap berjalan sebagaimana direncanakan.

Salah satu agenda yang sedang dipersiapkan adalah program KOWANI Goes to UNESCO serta upaya pendaftaran arsip sejarah KOWANI dalam program Memory of the World UNESCO 2027.

Menurut pengurus, agenda tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat dokumentasi sejarah perjuangan perempuan Indonesia sekaligus memperluas pengakuan di tingkat internasional.

Halaman Selanjutnya
img_title