57.600 UMKM Gabung MBG, Klaim Kunci Pemerataan Ekonomi Daerah
- viva
VIVATechno – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman mengungkapkan sebanyak 57.600 pelaku UMKM kini sudah terlibat sebagai pemasok dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Keterlibatan puluhan ribu UMKM tersebut disebut menjadi bukti bahwa program MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai menggerakkan ekonomi daerah.
Dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI, Maman menjelaskan ekosistem MBG saat ini juga melibatkan sekitar 12 ribu koperasi, 1.358 BUMDes, dan sekitar 64 ribu pemasok dari berbagai sektor.
Selain itu, tercatat ada 662 Koperasi Desa Merah Putih yang ikut masuk dalam rantai pasok program tersebut.
Maman menyebut pemasok yang terlibat sangat beragam.
Mulai dari penyedia bahan baku kering seperti minyak goreng, tepung, dan kecap, hingga bahan pangan segar seperti beras, telur, ayam, tahu, tempe, sayur, dan buah.
Tidak hanya bahan makanan, rantai pasok MBG juga mencakup kebutuhan operasional dapur seperti air bersih, gas, dan sabun cuci.
Menurut Maman, yang perlu menjadi perhatian utama bukan hanya siapa yang membangun dapur MBG, tetapi sejauh mana pelaku UMKM diberi ruang masuk ke rantai pasok program tersebut.
“Yang justru harus disoroti adalah apakah keterlibatan usaha mikro dan kecil dalam rantai pasok itu sudah dibuka seluas-luasnya,” kata Maman.
Ia juga menjelaskan pembangunan dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi biasanya dikelola pengusaha menengah karena membutuhkan modal besar.
Sementara itu, pelaku usaha mikro dan kecil lebih difokuskan sebagai pemasok bahan dan kebutuhan pendukung program.
Maman menilai skema tersebut dapat menciptakan pemerataan ekonomi jika keterlibatan UMKM terus diperluas.
Sebelumnya, Kementerian UMKM juga pernah menyebut program MBG memiliki potensi besar membangun ekosistem usaha baru dari hulu hingga hilir.
Data pemerintah menunjukkan ada sekitar 29,3 juta UMKM sektor pangan yang berpotensi terlibat dalam rantai pasok MBG di berbagai daerah.
Program ini juga disebut dapat membuka peluang usaha baru untuk jasa boga, pengelolaan limbah makanan, hingga distribusi bahan pangan lokal.
Meski begitu, Maman mengakui pelaksanaan program MBG masih memiliki sejumlah catatan yang perlu diperbaiki ke depan.