Kolaborasi Nasional Skrining Jantung Anak, Apa Dampaknya?

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin
Sumber :
  • Istimewa

VIVA - Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) mencatat Rekor MURI dalam kategori deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB) secara serentak kepada anak terbanyak. 

Stok Beras Nasional Tembus 5,4 Juta Ton, BULOG Waspada Risiko Penurunan Mutu

Penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) diserahkan pada puncak CHD Awareness Week di RS Harapan Kita, 14 Februari 2026.

Program skrining nasional tersebut digelar selama 24 Januari–14 Februari 2026 atas prakarsa Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI. 

Bansos Sering Salah Sasaran? Pemerintah Siapkan AI untuk Bereskan Data

Kegiatan meliputi edukasi publik serta pemeriksaan gratis bagi anak usia di bawah 18 tahun di 29 kota/kabupaten pada 24 provinsi, dari Banda Aceh hingga Jayapura.

Ketua PERKI, dr. Ade Median Ambari, SpJP(K), PhD, FIHA, menyatakan PJB masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian anak. Berdasarkan data Asia Tenggara, prevalensi PJB berkisar 9–10 per 1.000 kelahiran hidup. 

Mahasiswa UMB Juara Nasional, Bisnis Kreatif Mini.S7udio Bikin Juri UNEX 2026 Terpukau

Artinya, satu dari 100 bayi lahir dengan kelainan jantung bawaan. Di Indonesia diperkirakan terdapat sedikitnya 45 ribu kasus baru setiap tahun, dengan tingkat keterlambatan deteksi mencapai 60,8 persen.

“Melalui skrining nasional ini, kami ingin menjaring kasus lebih dini sekaligus membangun basis data registri PJB nasional,” ujarnya.

Selama periode pelaksanaan, sebanyak 2.702 murid menjalani pemeriksaan awal. Dari jumlah tersebut, 2.478 anak mendapatkan pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi. 

Hasilnya, ditemukan 53 kasus PJB dengan prevalensi 2,14 persen angka yang disebut lebih tinggi dibandingkan rerata global dan regional.

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan PJB PERKI, dr. Oktavia Lilyasari, M.Kes, SpJP(K), FIHA, menjelaskan belum terdapat data prevalensi nasional PJB yang komprehensif. 

Program ini diharapkan menjadi fondasi awal penyusunan registri nasional berbasis data lapangan.

Ia menambahkan, kecenderungan kasus lebih banyak ditemukan pada anak dengan berat badan rendah, stunting, faktor risiko tertentu, serta anak berkebutuhan khusus. 

Anak yang teridentifikasi PJB langsung diberikan edukasi kepada orang tua dan diarahkan untuk rujukan lanjutan ke fasilitas kesehatan.

Kegiatan skrining dilakukan di berbagai daerah, antara lain Surakarta, Semarang, Makassar, Medan, Bandung, Pontianak, Ambon, Mimika, Jayapura, Denpasar, hingga Tarakan. 

Pemeriksaan mencakup data antropometri, tanda vital, pemeriksaan fisik jantung, serta ultrasonografi jantung.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan setiap tahun puluhan ribu bayi lahir dengan PJB, sebagian dalam kondisi berat. Pada 2025, pemerintah telah melakukan skrining terhadap hampir 1,7 juta bayi.

Halaman Selanjutnya
img_title