Standar Global ESG 2025 Makin Ketat, Ini Dampaknya bagi Perusahaan
VIVATechno — Ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025 resmi digelar dan kembali mengukuhkan posisinya sebagai platform penilaian laporan keberlanjutan paling kredibel di Asia.
Tahun ini, acara yang diselenggarakan oleh National Center for Corporate Reporting (NCCR) dan Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP) memasuki tahun ke-21 dengan tingkat partisipasi yang meningkat dan standar yang semakin ketat.
ASRRAT 2025 diikuti oleh 82 perusahaan dan organisasi. Sebanyak 78 peserta berasal dari Indonesia, termasuk tiga entitas sektor publik. Sisanya berasal dari luar negeri: satu dari Bangladesh dan tiga dari Filipina.
Lonjakan partisipasi mencerminkan meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap pentingnya Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai fondasi daya saing jangka panjang.
Dalam keynote speech virtualnya, Prof. Dr. Bambang P.S. Brodjonegoro, Chairman Board of Trustee NCCR, menekankan perlunya perusahaan menyesuaikan sistem pelaporan mereka dengan perkembangan regulasi global.
Ia menyoroti empat standar internasional yang kini menjadi rujukan utama yaitu IFRS S1–S2, TCFD (Task Force on Climate-related Financial Disclosures), GRI Standards 2021 ASEAN Taxonomy.
Standar-standar ini menurutnya menjadi acuan agar pengungkapan keberlanjutan lebih terukur, terbandingkan, dan layak digunakan oleh pemangku kepentingan.
Dr. (Hon) Ali Darwin, Ak., M.Sc., CSRS, CSRA, CSP
- Istimewa
“Perusahaan perlu menyesuaikan diri dengan tuntutan global yang semakin terukur dan dapat diperbandingkan,” ujar Bambang.
Bambang menegaskan bahwa laporan keberlanjutan kini menjadi dokumen strategis, bukan sekadar formalitas.
Dengan data ESG yang kuat dan konsisten, perusahaan dapat menunjukkan kesiapan menghadapi transisi energi, tekanan pasar global, perubahan ekonomi berbasis keberlanjutan, tuntutan investor internasional.
Dalam sesi yang sama, Dr. (Hon) Ali Darwin, Executive Director NCCR, menyampaikan bahwa laporan keberlanjutan kini memengaruhi reputasi dan posisi kompetitif perusahaan.
Ali menjelaskan bahwa perusahaan dituntut tidak hanya memenuhi syarat teknis, tetapi juga menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengelolaan dampak material.
“Laporan keberlanjutan kini menjadi fondasi akuntabilitas dan kepercayaan,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas pengungkapan memengaruhi kepercayaan investor, akses pembiayaan berkelanjutan, kemampuan perusahaan masuk ekosistem ekonomi hijau, daya saing regional dan global.
“Pengungkapan berkualitas tinggi membuka peluang pembiayaan sekaligus memperkuat daya saing perusahaan ke depan,” tambah Ali.