DARPA kembangkan teknologi X-ray Bisa Pantau 1 KM
- RTX-Autoevolution
VIVATechno – Industri pertahanan dan keamanan global tengah bersiap menghadapi lompatan teknologi yang sebelumnya hanya dianggap sebagai fiksi ilmiah. Defense Advanced Research Projects Agency atau DARPA, lembaga riset pertahanan Amerika Serikat kini secara resmi menggandeng BBN Technologies untuk mewujudkan proyek ambisius bernama X-ray Extreme-range Non-imaging Analysis (XENA).
Proyek ini bertujuan menciptakan sistem pemindaian radiografi yang mampu menembus objek dari jarak yang sangat jauh, yakni hingga satu kilometer.
Selama ini, pemanfaatan sinar-X memiliki keterbatasan fisik yang sangat ketat. Secara teknis, pemindai konvensional membutuhkan jarak yang sangat dekat dengan target agar partikel foton dapat bekerja efektif mengungkapkan kepadatan dan bentuk objek di balik penghalang.
Biasanya, efektivitas alat ini akan menurun drastis jika jaraknya melebihi satu meter. Namun, melalui program XENA, batasan tersebut coba didobrak untuk memberikan keunggulan taktis bagi personel militer di lapangan.
Highlights:
- Jangkauan Ekstrem: Mampu memindai objek dari jarak 1 kilometer (0,62 mil), jauh melampaui batas konvensional 1 meter.
- Teknologi Rekonstruksi: Menggunakan algoritma canggih untuk menyatukan data dari berbagai sudut pandang meski sinyal lemah atau kabur.
- Deteksi Ancaman: Fokus pada pengungkapan senjata tersembunyi, geometri interior objek buatan manusia, dan titik lemah struktur.
- Kolaborasi Strategis: Dikembangkan oleh BBN Technologies (RTX) dengan bantuan riset dari Georgia Institute of Technology.
- Pemanfaatan Partikel Baru: Membuka potensi penggunaan sinar gamma dan muon untuk analisis non-imaging masa depan.
Mengatasi Tantangan Fisika Radiografi
Mengembangkan teknologi X-ray jarak jauh bukanlah perkara mudah. Ada alasan ilmiah mengapa selama puluhan tahun kita harus melewati gerbang pemindai yang sempit di bandara atau berdiri tepat di depan plat sensor saat di rumah sakit.
Masalah utama terletak pada pelemahan sinyal dan hamburan partikel saat menempuh jarak jauh. BBN Technologies, yang merupakan bagian dari grup RTX (sebelumnya Raytheon), kini memikul tanggung jawab besar untuk memecahkan kode tersebut.
Dalam kontrak pengembangan yang baru saja diumumkan, BBN diinstruksikan untuk tidak hanya membangun perangkat keras baru, tetapi juga algoritma pemrosesan data tingkat tinggi.