Standar Eropa Hantui Industri Baterai RI, CATIB Jadi Sorotan
VIVATechno - Tren industri kendaraan listrik (EV) pada 2026 menunjukkan lonjakan permintaan baterai global, namun di sisi lain memunculkan tantangan besar terkait standar internasional.
Dalam konteks ini, Komisi XII DPR RI melakukan pengawasan langsung ke PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang.
Masalah utama yang disorot mencakup kesiapan memenuhi regulasi pasar global seperti Eropa dan Jepang, yang kini semakin ketat terhadap aspek lingkungan dan jejak karbon.
Dampaknya, jika tidak terpenuhi, produk Indonesia berisiko tertinggal dalam rantai pasok global. Solusinya, industri harus mempercepat adaptasi teknologi dan compliance.
Fakta baru menunjukkan bahwa kesiapan non-teknis seperti traceability kini menjadi faktor krusial dalam ekspor baterai.
Standar Global Penentu Daya Saing Industri
Anggota DPR RI, Shanty Alda Nathalia menegaskan bahwa kesiapan terhadap standar internasional bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis.
“Kunjungan kerja ke PT CATIB dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan operasional industri baterai nasional, termasuk dalam mengantisipasi pemenuhan standar regulasi di pasar utama seperti Eropa dan Jepang sebagai bagian dari strategi perluasan akses pasar global,” ujar Shanty, Rabu 15 April 2026.
Anggota DPR RI, Shanty Alda Nathalia
- Istimewa
Tanpa pemenuhan standar seperti ESG (Environmental, Social, Governance), produk baterai nasional akan sulit masuk ke pasar premium global.
Ini menjadi titik kritis bagi Indonesia yang tengah membangun positioning sebagai pemain utama industri baterai dunia.
Kunjungan ini relevan bagi pelaku industri, investor, serta tenaga kerja lokal. Bagi industri, ini sinyal kuat bahwa compliance global akan menjadi baseline.
Bagi tenaga kerja di Karawang, peluang terbuka lebar namun dengan tuntutan peningkatan skill. Sementara bagi ekosistem EV nasional, langkah ini memperkuat fondasi supply chain domestik.
“Kesiapan terhadap standar internasional, khususnya yang berkaitan dengan aspek lingkungan, jejak karbon, dan traceability, menjadi faktor penentu agar produk nasional dapat diterima dan berdaya saing di pasar ekspor strategis,” lanjutnya.
Standar Lingkungan dan Traceability Jadi Kunci
Regulasi Uni Eropa dan Jepang kini mensyaratkan transparansi rantai pasok (traceability), pengurangan emisi karbon produksi, pengelolaan limbah baterai berkelanjutan.