Konflik Iran vs AS-Israel Memanas, Minyak Dunia dan Saham Global Bergejolak
VIVATechno - Eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memicu gejolak besar di pasar energi dan keuangan global.
Hingga 12 Maret 2026, harga minyak dunia melonjak tajam sementara pasar saham global mengalami tekanan akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dan inflasi.
Konflik yang dimulai setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 kini berkembang menjadi krisis geopolitik besar di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi dunia.
Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Gangguan Pasokan
Ketegangan militer di Timur Tengah membuat pasar energi global bereaksi cepat. Harga minyak sempat melonjak signifikan karena kekhawatiran gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk.
Laporan pasar menunjukkan bahwa harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 20 persen, bahkan menembus kisaran lebih dari US$100 per barel dalam beberapa hari setelah konflik memanas.
Selain itu, data perdagangan terbaru menunjukkan bahwa pada perdagangan terbaru Brent crude berada di sekitar US$91,98 per barel sementara West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$87,25 per barel setelah naik hampir 5% akibat ketegangan militer di kawasan tersebut.
Kenaikan harga minyak ini terjadi karena kekhawatiran bahwa konflik dapat mengganggu jalur perdagangan energi di Selat Hormuz, yang menangani hampir 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya.
Bahkan sejumlah kapal tanker dan kapal dagang dilaporkan terkena serangan proyektil di kawasan tersebut, yang memperparah kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Pasar Saham Global Ikut Terguncang
Lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik juga menekan pasar saham global.
Di Amerika Serikat, indeks utama di Wall Street mengalami penurunan karena investor khawatir konflik berkepanjangan dapat meningkatkan inflasi dan menunda penurunan suku bunga oleh bank sentral.
Laporan pasar menunjukkan bahwa Dow Jones sempat anjlok sekitar 500 poin, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak ekonomi dari konflik tersebut.
Sementara itu, sejumlah pasar saham di Asia dan Australia juga mengalami tekanan besar. Dalam satu sesi perdagangan, ratusan miliar dolar kapitalisasi pasar global dilaporkan menguap akibat lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.