Stok Beras Jabar Tembus 592 Ribu Ton, Bulog Gaspol Serap Gabah Petani

Bulog Jabar
Sumber :
  • Istimewa

VIVATechno - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) memastikan stok beras di Jawa Barat tetap aman selama Ramadan 2026 seiring meningkatnya penyerapan gabah petani untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

BULOG Jabar Serap 1 Juta Ton Gabah, Bantuan Beras Siap Disalurkan

Pemimpin Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat, Nurman Susilo, mengatakan penyerapan gabah dan beras dari petani tetap dilakukan secara agresif selama Ramadan sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan pemerintah.

Program tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto periode 2024–2029.

Sawah Pintar Berbasis AI Diuji, Solusi Baru Hadapi Krisis Air dan Perubahan Iklim

Menurut Nurman, langkah tersebut juga bertujuan memperkuat stok CBP sekaligus mengejar target nasional pengadaan beras tahun 2026 sebesar 4,5 juta ton.

“Khusus Jawa Barat, targetnya sekitar 1.012.000 ton gabah kering panen atau setara 694.432 ton beras,” kata Nurman.

Sidak Pasar di Bandung, Mayoritas Bahan Pokok Stabil Awal Juni 2026

Ia memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras di wilayah Jawa Barat. Saat ini Bulog mengelola cadangan beras pemerintah sekitar 592 ribu ton.

“In syaa Allah stok beras di Jawa Barat aman dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Selain menjaga ketersediaan stok, penyerapan gabah juga dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Bulog membeli gabah kering panen (GKP) sesuai harga yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp6.500 per kilogram.

Nurman optimistis target penyerapan tahun ini dapat tercapai hingga akhir 2026. Hal itu terlihat dari peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama tahun lalu, hingga pekan kedua Maret, penyerapan gabah di Jawa Barat baru mencapai 32.086 ton. Sementara pada 2026 volumenya sudah menembus 130 ribu ton.

Nurman menegaskan keberhasilan peningkatan penyerapan tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, penyuluh pertanian, hingga mitra pengadaan dan kelompok tani.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kesejahteraan petani di daerah.*