Silent Mode Society, Keheningan Digital Jadi Budaya Baru Masyarakat Indonesia
VIVA - Ada satu kebiasaan baru yang diam - diam menjelma menjadi fenomena sosial masyarakat Indonesia yaitu semakin banyaknya mengaktifkan silent mode, Do Not Disturb, dan mute notifications pada Smartphone.
Ruang lingkup pekerjaan seperti di kota - kota besar, fasilitas transportasi umum, kafe atau restoran hingga di rumah, bunyi notifikasi kini tidak lagi terdengar seramai dulu.
Ponsel tetap menyala namun sunyi yaitu aplikasi terus bekerja, tetapi tanda - tanda komunikasi tenggelam dalam keheningan digital.
Fenomena tersebut bukan sekadar opsi penggunaan fitur Smartphone, namun perubahan budaya dengan pergeseran nilai, hubungan dan kebiasaan individu merespons komunikasi digital yang semakin padat dan kompleks.
Untuk memahami keheningan tersebut, Teori Ekologi Media dari James Carey mampu menganalisa bahwa media sebagai lingkungan budaya yang membentuk cara seseorang atau kelompok berinteraksi, memahami dunia dan memaknai hubungan.
Dari Perspektif Ekologi Media, silent mode bukan lagi sekadar fitur ponsel, melainkan cerminan sebuah kebutuhan sekaligus memberi ruang ekspresi yang leluasa di tengah hiruk pikuk komunikasi yang tak pernah tidur.
1. Media Bukan Sekadar Alat, Melainkan Sistem Kultural
James Carey berpendapat bahwa media harus dipahami sebagai bagian dari ekosistem kebudayaan sekaligus dimensi yang membentuk pengalaman sosial manusia.
Dalam konteks ini, silent mode menjadi elemen budaya baru dalam keseharian masyarakat Indonesia.
Pada era 2010 suara notifikasi dianggap sebagai simbol eksistensi, namun pada 2025, justru kebalikannya yang di mana diam merupakan ‘fitur’ bentuk kendali, hening menjadi strategi bertahan hidup.
Bagi sebagian besar pekerja dengan durasi padat dan kompleks, silent mode jadi salahsatu pembatas ruang kerja dan ruang pribadi, sesuatu yang semakin kabur sejak era WFH maupun hybrid.
Sedangkan pada dimensi platform digital yaitu grup WhatsApp keluarga, kantor, komunitas, tekanan untuk merespons cepat semakin terasa.
Budaya Indonesia yang kolektivis dan menjaga harmoni sosial membuat orang sering merasa bersalah ketika terlambat merespons.
Maka silent mode hadir sebagai budaya baru yang mengubah norma tersebut yang di mana sikap menunda respon atau berkomentar menjadi wajar, keterhubungan tidak lagi identik dengan kesigapan.