Pasar EV Indonesia Makin Panas, ModalSaham Perkuat Pembiayaan
- Nasmoco
VIVA - Industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia terus menunjukkan potensi besar seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap transportasi rendah emisi.
Namun, di balik peluang tersebut, pelaku industri masih menghadapi tantangan serius mulai dari pembiayaan, distribusi, edukasi pasar, hingga membangun kepercayaan konsumen terhadap kendaraan listrik.
Di tengah persaingan pasar EV yang semakin ketat, PT Kerja Sama Harmonis memperkuat modal kerja melalui dukungan channeling financing dari PT Modal Saham Asia Investama yang beroperasi dengan brand ModalSaham.
Pada 2025, perusahaan memperoleh fasilitas pembiayaan senilai USD 61.000 untuk mendukung kebutuhan operasional dan pengembangan bisnis kendaraan listrik di Indonesia.
Dukungan pembiayaan tersebut digunakan untuk menjaga stabilitas operasional, memperkuat distribusi, hingga memperluas jaringan bisnis kendaraan listrik yang sedang berkembang pesat di pasar nasional.
Direktur Utama PT Kerja Sama Harmonis, Kasmar HS mengatakan pasar kendaraan listrik Indonesia masih membutuhkan proses adaptasi yang panjang, terutama dalam membangun kepercayaan konsumen.
“Konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas, keamanan, daya tahan baterai, jarak tempuh, hingga layanan purna jual. Karena itu, perusahaan membutuhkan kesiapan modal kerja yang kuat agar operasional tetap berjalan stabil,” ujar Kasmar dalam keterangannya, Senin 18 Mei 2026.
Strategi Baru Bisnis EV Indonesia
- Istimewa
Portofolio EV Kian Beragam, Dari Motor hingga Mobil Listrik Retro
PT Kerja Sama Harmonis saat ini membangun portofolio bisnis melalui sejumlah merek kendaraan listrik seperti Nimbuzz, NYX, Move, Mid West, Smart Speed, Tiger Wong Moto Indonesia, hingga Asjack.
Nimbuzz menyasar segmen motor listrik entry-level untuk kebutuhan harian, sementara NYX hadir dengan konsep skuter listrik bergaya klasik urban. Move dan Mid West fokus pada pasar motor listrik menengah hingga premium.
Sementara itu, Smart Speed bermain di kategori sepeda listrik terjangkau. Tiger Wong Moto Indonesia memperkuat pasar komunitas motor listrik melalui kolaborasi figur publik, termasuk Baim Wong. Adapun Asjack memperluas pasar melalui mobil listrik retro classic dengan desain unik.
Kasmar menilai pertumbuhan industri EV tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga kesiapan distribusi, layanan, serta dukungan pembiayaan yang sehat agar ekspansi bisnis berjalan realistis dan berkelanjutan.
CEO ModalSaham, Muhammad Reza Alkhawarismi menyebut industri kendaraan listrik memiliki karakter pembiayaan yang berbeda dibanding sektor perdagangan konvensional.
Menurut Reza, perusahaan EV membutuhkan modal kerja lebih besar karena harus menjaga stok, layanan, distribusi, hingga menghadapi risiko perubahan harga komponen dan permintaan pasar yang fluktuatif.
“Pembiayaan di sektor EV harus diarahkan pada kebutuhan yang produktif dan terukur. Fokus kami membantu perusahaan memperkuat cash flow dan menjaga kelancaran operasional,” kata Reza.
ModalSaham sendiri menawarkan berbagai skema pembiayaan mulai dari invoice financing, purchase order financing, project financing, supply chain financing, inventory financing, working capital financing, employee financing, hingga equity financing.
Subsidi dan Regulasi untuk Adopsi EV
Selain pembiayaan, PT Kerja Sama Harmonis juga menilai dukungan pemerintah melalui regulasi dan subsidi kendaraan listrik masih menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi EV nasional.
Kasmar mengatakan subsidi dapat membantu menekan biaya awal kepemilikan kendaraan listrik yang selama ini menjadi hambatan utama konsumen.
Menurutnya, jika distribusi kuat dan konsumen semakin percaya terhadap layanan kendaraan listrik, maka pertumbuhan pasar EV Indonesia akan berkembang lebih alami dan berkelanjutan.*