Panic Buying BBM Mulai Meluas, Muncul Celah Penyalahgunaan Barcode BBM Subsidi

Lima Tips Sederhana Hemat BBM
Sumber :
  • id.pinterest.com

VIVA - Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia, Tulus Abadi, meminta masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying di tengah munculnya antrean panjang pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah daerah. 

img_title Kuliah Umum Web3 di Samarinda Hadirkan Pakar Industri Kripto

Ia menilai kepanikan masyarakat justru berpotensi memperburuk distribusi BBM bersubsidi dan memicu distorsi pasar. Menurut Tulus, situasi distribusi BBM saat ini masih dapat dikendalikan apabila masyarakat mengikuti arahan pemerintah dan tidak membeli BBM secara berlebihan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menegaskan fenomena antrean BBM juga dipengaruhi kondisi geopolitik global yang berdampak pada negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

img_title Bongkar Setup Trading Otomatis: Cara Pantau Ribuan Aset Kripto dalam Hitungan Detik

“Perilaku panic buying justru bisa memperparah distribusi BBM di daerah. Masyarakat sebaiknya tetap tenang dan mengikuti kebijakan pemerintah,” ujar Tulus dalam keterangannya, Kamis 14 Mei 2026.

Antrean pembelian BBM sebelumnya dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah seperti Palangka Raya, Sumatra Barat, Maluku hingga Morotai. Kondisi tersebut turut dipicu tingginya selisih harga antara solar subsidi dengan BBM nonsubsidi seperti Dexlite dan Pertamina Dex.

img_title 3 Syarat Mutlak Agar Uang di Bank Dijamin Sepenuhnya oleh LPS

Pengawasan Barcode BBM Dinilai Masih Lemah

Tulus menyoroti praktik penggunaan lebih dari satu barcode dalam pembelian solar subsidi. Menurutnya, lemahnya pengawasan berpotensi membuka celah penyalahgunaan distribusi BBM subsidi di lapangan.

Ia menilai sistem barcode seharusnya dibuat lebih ketat agar konsumsi BBM subsidi benar-benar tepat sasaran. Salah satu langkah yang dinilai penting yakni membatasi satu kendaraan hanya menggunakan satu barcode aktif.

“Kalau pengawasannya konsisten, satu kendaraan cukup menggunakan satu barcode sehingga distribusi subsidi lebih mudah dikontrol,” katanya.

Tulus menegaskan pengawasan distribusi BBM perlu diperkuat untuk mencegah munculnya praktik pasar ilegal maupun penimbunan BBM subsidi. Terlebih, disparitas harga dinilai cukup tinggi dan memicu potensi penyalahgunaan.

Saat ini harga solar subsidi berada di kisaran Rp6.800 per liter, sementara Dexlite mencapai sekitar Rp26.000 per liter dan Pertamina Dex sekitar Rp27.900 per liter. Perbedaan harga yang signifikan tersebut disebut menjadi faktor utama meningkatnya pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM subsidi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pemerintah dan Pertamina Diminta Jaga Pasokan BBM

Selain pengawasan barcode, Tulus juga meminta pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) memastikan pasokan BBM tetap aman menjelang periode konsumsi tinggi masyarakat.

Halaman Selanjutnya
img_title