Dari Reseller ke Bisnis Top Up Game 24 Jam, Ini Strategi Ekspansi Bossdiamond
- Istimewa
VIVATechno - Pendiri platform top up game Bossdiamond, Muhammad Bahtera Fajri, memutuskan melakukan restrukturisasi total pada unit bisnisnya setelah mengalami dinamika kerugian finansial di masa lalu.
Langkah rebranding dari merek sebelumnya, Bahtera Store, dilakukan guna memperkuat operasional tim serta memperluas cakupan layanan di industri esports dan voucher digital.
Fajri menyebut perombakan manajemen ini sebagai bentuk penyegaran arah bisnis.
Fokus utama Bossdiamond kini ditujukan pada efisiensi operasional layanan transaksi digital 24 jam untuk sejumlah judul gim populer seperti Mobile Legends, Free Fire, dan Valorant, sekaligus menambah lini jasa pendukung ekosistem gaming.
Perubahan pada Bossdiamond mencakup konsolidasi struktur tim internal dan pembenahan infrastruktur kantor operasional di Medan.
Berbeda dari pola kerja sebelumnya yang bertumpu pada pendiri secara individual, entitas baru ini dijalankan oleh tim operasional khusus.
Selain memproses transaksi voucher gim, Bossdiamond mengintegrasikan divisi unit usaha baru yang mencakup:
- Manajemen Media Sosial: Pengelolaan konten digital untuk tim esports, kreator, dan pembuat konten lokal.
- Produksi Visual Gaming: Layanan photoshoot dan pembuatan materi promosi bertema gim.
- Penyelenggaraan Acara: Pengorganisasian turnamen esports skala komunitas berbasis mobile dan PC.
Ekspansi unit usaha ini memanfaatkan rekam jejak Fajri yang sebelumnya aktif sebagai pemain turnamen, pembuat konten, dan penyelenggara acara esports daerah.
Ke depan, Bossdiamond menargetkan penjangkauan segmen pasar luar negeri untuk layanan manajemen dan transaksi voucher digital.
Rekam Jejak Operasional dan Dinamika Bisnis
Sebelum mendirikan Bossdiamond, Fajri memulai aktivitas di industri gim dari skala komunitas saat menempuh pendidikan kejuruan.
Ia mendirikan media komunitas Bahtera TV yang memproduksi informasi esports sebelum akhirnya masuk ke bisnis perantara (reseller) transaksi gaming.
Dalam perjalanan operasional Bahtera Store, bisnis tersebut sempat mempekerjakan delapan karyawan dan mencatatkan pertumbuhan transaksi harian.
Namun, unit usaha tersebut mengalami gangguan operasional akibat insiden penipuan oleh pihak supplier yang mengakibatkan kerugian material hingga ratusan juta rupiah.
Dampak dari penipuan tersebut memaksa penutupan operasional Bahtera Store dan penjualan aset modal kerja.