Generative AI Ikut Main di Tengah Demo BEM UI, Apa Dampaknya?
- tribunnews.com
Cirebon, VIVA Techno - Ketika ribuan mahasiswa turun ke jalan, ruang digital biasanya ikut memanas. Hal itu terlihat saat aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di kawasan Bundaran HI ramai diperbincangkan di platform X.
Namun, perhatian publik bukan hanya tertuju pada tuntutan demonstrasi. Perang narasi di media sosial justru menjadi fenomena baru yang menarik perhatian. Berbagai unggahan dengan sudut pandang berbeda bermunculan, mulai dari mendukung aksi hingga mempertanyakan gerakan tersebut.
Di tengah derasnya percakapan digital, muncul pembahasan mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau generative AI yang semakin mudah dimanfaatkan untuk membuat konten, menyusun opini, hingga memperbanyak pesan tertentu.
Generative AI memungkinkan seseorang menghasilkan teks, gambar, maupun respons secara cepat dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat batas antara opini manusia dan konten buatan mesin semakin sulit dikenali oleh pengguna media sosial.
Selain AI generatif, keberadaan akun bot juga menjadi sorotan. Akun otomatis yang aktif membagikan pesan serupa atau meningkatkan topik tertentu dapat membuat sebuah isu terlihat lebih besar dari kondisi sebenarnya.
Fenomena tersebut membuat media sosial seperti X tidak hanya menjadi tempat bertukar pendapat, tetapi juga arena perebutan perhatian publik. Setiap kelompok berusaha membawa narasi masing-masing agar lebih banyak dilihat dan mendapatkan dukungan.
Vivanians, perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat menerima informasi. Namun, kemampuan membaca informasi secara kritis menjadi semakin penting agar pengguna tidak mudah terbawa arus opini yang dibentuk oleh sistem otomatis.
Pengamat teknologi menilai penggunaan AI dalam ruang publik bukan selalu sesuatu yang negatif. Teknologi tersebut dapat membantu produktivitas dan penyebaran informasi, tetapi juga memiliki risiko ketika digunakan untuk manipulasi opini atau membangun persepsi palsu.
Karena itu, masyarakat perlu lebih teliti melihat pola penyebaran informasi di media sosial. Jumlah unggahan, komentar, atau akun yang ramai belum tentu selalu mencerminkan suara mayoritas pengguna.
Peristiwa seperti aksi BEM UI menunjukkan bahwa pertarungan opini saat ini tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga berlangsung di ruang digital dengan melibatkan teknologi yang semakin canggih.*