Benih Cabai Tahan Virus Ini Bikin Petani Tenang Hadapi Ancaman Musim Kering 2026

Cuaca Tak Menentu Ancam Panen
Sumber :
  • Istimewa

VIVA - Memasuki musim kemarau 2026, para petani di sejumlah wilayah Indonesia mulai bersiap menghadapi ancaman cuaca ekstrem dan potensi kemarau panjang yang diperkirakan dapat memengaruhi produksi pangan nasional. 

img_title Kuliah Umum Web3 di Samarinda Hadirkan Pakar Industri Kripto

Risiko gagal panen hingga penurunan produktivitas hortikultura menjadi perhatian utama, terutama pada komoditas cabai yang sensitif terhadap perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Sukabumi, Jawa Barat, ratusan petani hortikultura mengikuti kegiatan temu lapangan yang difokuskan pada strategi budidaya cabai keriting saat musim panas. 

img_title Bongkar Setup Trading Otomatis: Cara Pantau Ribuan Aset Kripto dalam Hitungan Detik

Kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi bagi petani untuk memahami pola tanam adaptif, efisiensi penggunaan air, hingga pemilihan benih yang sesuai dengan kondisi cuaca kering.

Kegiatan lapangan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan sistem pangan berbasis adaptasi iklim. Petani diberikan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan risiko pertanian agar produksi tetap stabil di tengah ketidakpastian musim yang semakin sulit diprediksi.

img_title 3 Syarat Mutlak Agar Uang di Bank Dijamin Sepenuhnya oleh LPS

Benih Cabai Tahan Virus Dilirik Petani

Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah benih cabai keriting TANGGUH 77 F1. 

Varietas hibrida ini dikembangkan untuk menghadapi tantangan musim panas dengan ketahanan terhadap beberapa penyakit utama seperti virus Gemini, layu bakteri, hingga busuk batang yang kerap memicu kerugian besar saat kemarau.

Selain memiliki daya tahan terhadap penyakit, varietas tersebut juga dinilai cocok untuk dataran rendah hingga menengah dengan potensi hasil mencapai 21 ton per hektare. 

Masa panen yang relatif cepat, sekitar 73 hingga 75 hari setelah tanam, menjadi nilai tambah bagi petani untuk menjaga stabilitas produksi.

Adom, petani cabai asal Desa Tugu Bandung, Kecamatan Kebandungan, Sukabumi, mengaku tantangan terbesar saat musim panas adalah meningkatnya serangan virus pada tanaman cabai. 

Menurutnya, penggunaan varietas yang tepat menjadi langkah penting untuk mempertahankan kualitas tanaman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Ketahanan virusnya memang bagus. Tanaman tetap sehat meski cuaca panas dan tidak mudah terserang penyakit. Buahnya juga lebih baik sehingga petani lebih tenang menghadapi musim tanam,” ujarnya.

General Manager Commercial PT East West Seed Indonesia (EWINDO), Budi Hariyono, mengatakan ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung pada teknologi atau produk pertanian semata. 

Halaman Selanjutnya
img_title