Standar Eropa Hantui Industri Baterai RI, CATIB Jadi Sorotan

Industri EV
Sumber :
  • Pinterest

VIVATechno - Tren industri kendaraan listrik (EV) pada 2026 menunjukkan lonjakan permintaan baterai global, namun di sisi lain memunculkan tantangan besar terkait standar internasional. 

img_title Bongkar Setup Trading Otomatis: Cara Pantau Ribuan Aset Kripto dalam Hitungan Detik

Dalam konteks ini, Komisi XII DPR RI melakukan pengawasan langsung ke PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Masalah utama yang disorot mencakup kesiapan memenuhi regulasi pasar global seperti Eropa dan Jepang, yang kini semakin ketat terhadap aspek lingkungan dan jejak karbon. 

img_title 3 Syarat Mutlak Agar Uang di Bank Dijamin Sepenuhnya oleh LPS

Dampaknya, jika tidak terpenuhi, produk Indonesia berisiko tertinggal dalam rantai pasok global. Solusinya, industri harus mempercepat adaptasi teknologi dan compliance. 

Fakta baru menunjukkan bahwa kesiapan non-teknis seperti traceability kini menjadi faktor krusial dalam ekspor baterai.

img_title Bawa Baterai Monster 10.000mAh, Xiaomi Hancurkan Standar HP 5G

Standar Global Penentu Daya Saing Industri

Anggota DPR RI, Shanty Alda Nathalia menegaskan bahwa kesiapan terhadap standar internasional bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis. 

“Kunjungan kerja ke PT CATIB dilakukan untuk melihat secara langsung kesiapan operasional industri baterai nasional, termasuk dalam mengantisipasi pemenuhan standar regulasi di pasar utama seperti Eropa dan Jepang sebagai bagian dari strategi perluasan akses pasar global,” ujar Shanty, Rabu 15 April 2026.

Anggota DPR RI, Shanty Alda Nathalia

Photo :
  • Istimewa

Tanpa pemenuhan standar seperti ESG (Environmental, Social, Governance), produk baterai nasional akan sulit masuk ke pasar premium global. 

Ini menjadi titik kritis bagi Indonesia yang tengah membangun positioning sebagai pemain utama industri baterai dunia.

Kunjungan ini relevan bagi pelaku industri, investor, serta tenaga kerja lokal. Bagi industri, ini sinyal kuat bahwa compliance global akan menjadi baseline. 

Bagi tenaga kerja di Karawang, peluang terbuka lebar namun dengan tuntutan peningkatan skill. Sementara bagi ekosistem EV nasional, langkah ini memperkuat fondasi supply chain domestik.

“Kesiapan terhadap standar internasional, khususnya yang berkaitan dengan aspek lingkungan, jejak karbon, dan traceability, menjadi faktor penentu agar produk nasional dapat diterima dan berdaya saing di pasar ekspor strategis,” lanjutnya.

Standar Lingkungan dan Traceability Jadi Kunci

Regulasi Uni Eropa dan Jepang kini mensyaratkan transparansi rantai pasok (traceability), pengurangan emisi karbon produksi, pengelolaan limbah baterai berkelanjutan.

Fakta ini memperkuat bahwa industri baterai tidak lagi sekadar manufaktur, tetapi juga berbasis sustainability compliance yang ketat.

Pergeseran Compliance-Driven Economy

Industri baterai kini mengalami pergeseran paradigma. Bukan hanya soal kapasitas produksi, tetapi kemampuan memenuhi standar global yang kompleks. 

“Industri ini di Karawang harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, antara lain melalui penyerapan tenaga kerja lokal, baik dari sisi jumlah maupun kualitas, dengan peningkatan kapasitas dan kompetensi,” tegas Shanty.

Dalam perspektif experience, ini menunjukkan bahwa daya saing Indonesia ke depan akan ditentukan oleh kecepatan adaptasi terhadap regulasi internasional, bukan sekadar keunggulan sumber daya alam.

Kunjungan DPR RI ini menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan industri baterai nasional harus berjalan seimbang antara orientasi ekspor dan dampak lokal. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan potensi besar Indonesia dalam rantai pasok global, pelaku industri seperti CATIB didorong untuk memperkuat kesiapan teknologi, kepatuhan regulasi, serta kontribusi terhadap ekonomi daerah. 

Secara strategis, ini menjadi momentum untuk mempercepat transformasi Indonesia sebagai hub baterai EV dunia.*