Bali Butuh Listrik Stabil 2026, Proyek LNG Serangan Jadi Solusi Kontroversial
VIVATechno – Tren transisi energi bersih di 2026 mendorong percepatan proyek strategis, termasuk pembangunan terminal FSRU LNG di Serangan, Bali. Di tengah kebutuhan listrik stabil untuk pariwisata dan industri, muncul penolakan sebagian warga yang khawatir terhadap dampak sosial dan akses ruang hidup.
Situasi ini memunculkan dilema yaitu menjaga keberlanjutan ekonomi tanpa mengorbankan kearifan lokal. Solusi yang didorong adalah pendekatan kompromi berbasis jarak aman dan pelibatan tenaga kerja lokal.
Fakta terbaru menunjukkan proyek ini telah mengantongi izin lingkungan resmi dan dukungan pemerintah pusat.
Paragraf krusialnya, proyek ini diproyeksikan menjadi tulang punggung pasokan energi Bali dengan kapasitas besar, sekaligus membuka peluang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan lapangan kerja. Anggota DPR Syarif Fasha menegaskan bahwa investasi ini memiliki nilai strategis yang tidak bisa diabaikan.
Dampak ke Masyarakat dan Sektor Industri
Secara ringkas, proyek ini berpotensi memperkuat stabilitas listrik sekaligus mendukung sektor pariwisata.
Namun, dampaknya berbeda untuk tiap kelompok. Industri hotel, restoran, dan UMKM akan mendapatkan pasokan energi lebih stabil, sementara masyarakat pesisir mengkhawatirkan ruang tangkap dan aktivitas adat.
Proyek ini paling relevan bagi pelaku industri energi, pemerintah daerah, serta sektor pariwisata berbasis green economy.
Dari sisi kredibilitas, proyek ini memiliki sejumlah basis data kuat:
- Kapasitas terminal: 170 MMSCFD
- Target: mendukung kebutuhan energi skala besar Bali
- Penurunan emisi karbon: hingga 16%
- SKKL: Nomor 2832 Tahun 2025 dari KLH
- Rekomendasi lokasi: 3,5 km dari pesisir oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi
Dukungan juga datang dari Gubernur Bali I Wayan Koster yang mendorong transisi energi bersih untuk memperkuat citra pariwisata hijau.
Berikut poin penting proyek LNG Serangan:
- Infrastruktur: Floating Storage and Regasification Unit (FSRU)
- Fungsi: regasifikasi LNG ke gas untuk listrik & industri
- Lokasi awal: perairan Serangan
- Opsi revisi: hingga 4,8 km dari pesisir
- Dampak ekonomi: PAD daerah + serapan tenaga kerja lokal
- Target sektor: hotel, restoran, industri, UMKM
Energi Bersih vs Sosial Budaya
Secara pengalaman empiris, konflik proyek energi sering terjadi pada fase transisi. Di satu sisi, LNG diposisikan sebagai energi transisi menuju net zero emission. Di sisi lain, masyarakat lokal menuntut perlindungan ruang hidup dan nilai adat.