IPB Bongkar Masalah Utama Pangan, Ternyata Bukan di Produksi

Ilustrasi Teknologi Pertanian
Sumber :
  • Pinterest

VIVATechno - Isu ketersediaan dan stabilitas harga pangan kembali mengemuka setelah periode Lebaran. Lonjakan permintaan komoditas pangan menegaskan bahwa sistem pangan nasional masih menghadapi tantangan serius, terutama dalam menjaga pasokan dan keterjangkauan harga di tingkat konsumen.

img_title Bongkar Setup Trading Otomatis: Cara Pantau Ribuan Aset Kripto dalam Hitungan Detik

Pakar pertanian dari IPB University, Profesor Bayu Krisnamurthi, menilai pendekatan pembangunan pangan di Indonesia harus mengalami pergeseran fundamental. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menekankan bahwa pangan tidak lagi bisa dipandang sebagai sektor produksi semata, melainkan sebagai sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.

img_title 3 Syarat Mutlak Agar Uang di Bank Dijamin Sepenuhnya oleh LPS

Menurutnya, pendekatan sistem justru menjadi “jawaban sederhana” atas kompleksitas persoalan pangan yang selama ini dianggap rumit.

Konsep Sistem Pangan Jadi Kunci

img_title Bawa Baterai Monster 10.000mAh, Xiaomi Hancurkan Standar HP 5G

Dalam wawancara, Prof. Bayu menjelaskan bahwa setiap komponen dalam sistem pangan saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan. Gangguan pada satu titik akan berdampak langsung pada keseluruhan rantai pasok.

Ia mencontohkan kelangkaan benih unggul, hambatan distribusi, hingga lonjakan harga sebagai faktor yang dapat mengganggu akses masyarakat terhadap pangan.

“Jika satu bagian terganggu, maka konsumen tidak akan mendapatkan pangan sesuai harapan,” ujarnya.

Pandangan ini memperkuat urgensi perbaikan sistem pangan nasional secara menyeluruh, bukan parsial seperti yang selama ini kerap terjadi.

IKP Jadi Bukti Nyata Perubahan Pendekatan

Sebagai bentuk penyempurnaan kebijakan, pemerintah mulai memasukkan Indeks Kesejahteraan Petani (IKP) dalam APBN 2026. Indikator ini melengkapi instrumen sebelumnya seperti Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN).

IKP dinilai sebagai indikator yang lebih komprehensif karena mengukur kesejahteraan petani secara multidimensi melalui 21 variabel.

Pada September 2025, Badan Anggaran DPR RI bersama pemerintah menyepakati tiga indikator baru dalam RAPBN 2026, yakni IKP, penciptaan lapangan kerja formal, serta Gross National Income (GNI) per kapita. Ketiganya kini menjadi acuan dalam evaluasi efektivitas anggaran negara.

Tantangan Utama Ada di Pola Pikir Sektoral

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Prof. Bayu menilai hambatan terbesar bukan pada teknologi atau sumber daya, melainkan pada pola pikir yang masih sektoral dan terfragmentasi. Ia mendorong penerapan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, media, dan organisasi non-pemerintah.

“Semua pihak harus berperan optimal karena sistem pangan tidak bisa berjalan sendiri,” tegasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title