H-3 Arus Mudik 2026, 2,9 Juta Pemudik Serbu Jalur Selatan Jabar, Ini Jam Paling Padat
- id.pinterest.com
VIVATechno - Jalur Selatan Jawa Barat diprediksi mengalami lonjakan signifikan pada H-3 Idul Fitri 2026, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat yang memilih jalur alternatif selain tol.
Kondisi ini menjadi krusial bagi pemudik karena berpotensi memicu kemacetan panjang, terutama di titik-titik rawan seperti Nagreg hingga Tasikmalaya.
Bagi pengguna kendaraan pribadi, memahami waktu terburuk melintas menjadi kunci untuk menghindari perjalanan yang melelahkan dan tidak efisien.
Puncak Arus Mudik Terjadi 18 Maret 2026, Polisi Siapkan Pengamanan
Dinas Perhubungan Jawa Barat memprediksi puncak arus mudik terjadi pada H-3 Lebaran atau Rabu, 18 Maret 2026, dengan jutaan pemudik bergerak secara bersamaan.
Kepolisian melalui Operasi Ketupat Lodaya 2026 juga telah menyiapkan pengamanan intensif, termasuk rekayasa lalu lintas dan penempatan ribuan personel di jalur strategis.
Jalur Selatan yang meliputi Bandung, Nagreg, Garut, Tasikmalaya hingga Banjar menjadi salah satu fokus utama karena mengalami peningkatan volume kendaraan dibanding tahun sebelumnya.
Pergeseran pola mudik ini dipengaruhi preferensi masyarakat yang ingin menghindari kepadatan tol Trans Jawa.
Data Dishub: 2,9 Juta Pemudik Lewat Jalur Selatan
Berdasarkan data resmi Dinas Perhubungan Jawa Barat, sekitar 2,9 juta pemudik diprediksi melintasi Jalur Selatan selama periode mudik Lebaran 2026.
Secara keseluruhan, pergerakan masyarakat di Jawa Barat mencapai 25,6 juta orang, dengan mayoritas menggunakan kendaraan pribadi.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan mencatat total mobilitas nasional mencapai 143,91 juta orang, dengan Jawa Barat menjadi daerah asal pemudik terbesar mencapai 30,97 juta orang.
Waktu paling padat diperkirakan terjadi pada pukul 04.00–10.00 WIB, ketika gelombang kendaraan berangkat secara bersamaan. Sebaliknya, kepadatan relatif menurun pada siang hingga malam hari.
Perubahan Pola Mudik dan Risiko Kemacetan
Tren mudik 2026 menunjukkan perubahan signifikan, di mana Jalur Selatan mulai menjadi alternatif favorit karena dianggap lebih fleksibel dibanding jalur tol.
Namun, peningkatan minat ini justru memicu potensi bottleneck di jalur arteri yang memiliki kapasitas terbatas.
Selain itu, dominasi kendaraan pribadi juga memperparah kepadatan karena volume kendaraan tidak sebanding dengan kapasitas jalan.
Tanpa manajemen waktu yang tepat, pemudik berisiko terjebak kemacetan berjam-jam, terutama di titik tanjakan dan persimpangan utama seperti Limbangan dan Malangbong.