Otak Kapal Perang CMS MANDHALA Mk2 Ubah Sistem Tempur TNI
- Istimewa
VIVA - Len Industri (Persero) memamerkan teknologi inti sistem tempur kapal perang dalam demonstrasi produk yang digelar di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa 11 Maret 2026.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional sekaligus mendukung modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.
Kegiatan ini disaksikan langsung oleh Kepala Badan Logistik Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Marsdya TNI Yusuf Jauhari, M.Eng., serta perwakilan TNI Angkatan Laut dan sejumlah pimpinan industri galangan kapal nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Pertahanan menilai forum demonstrasi teknologi pertahanan memiliki peran strategis dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pengguna alutsista, serta industri dalam negeri.
“Forum seperti ini sangat penting karena memberikan ruang bagi industri pertahanan nasional untuk menunjukkan kemajuan teknologi yang telah dicapai,” ujar Yusuf Jauhari dalam keterangannya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan para insinyur Indonesia dalam pengembangan teknologi pertahanan domestik. Menurutnya, inovasi teknologi merupakan salah satu faktor kunci dalam memperkuat industri pertahanan nasional sekaligus menjaga kedaulatan negara.
CMS MANDHALA Mk2 Jadi Pusat Kendali Sistem Tempur Kapal
Dalam demonstrasi tersebut, PT Len Industri memperkenalkan Combat Management System (CMS) MANDHALA Mk2, yang berfungsi sebagai pusat kendali atau “otak” dari sistem tempur kapal perang.
Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai komponen penting dalam operasi militer laut, mulai dari sensor, radar, sistem komunikasi, navigasi, hingga sistem persenjataan dalam satu platform terpadu.
Melalui integrasi tersebut, CMS mampu menampilkan informasi taktis secara real time sehingga membantu komandan kapal dalam mengambil keputusan strategis selama operasi tempur.
Pengembangan teknologi ini dinilai sebagai langkah penting dalam meningkatkan kemampuan teknologi pertahanan nasional, sekaligus memperkuat posisi industri dalam negeri dalam pengembangan sistem militer modern.
Teknologi Tactical Data Link untuk Operasi Militer Terintegrasi
Selain CMS, Len juga memperkenalkan Tactical Data Link (TDL) LINK ID, sistem yang memungkinkan pertukaran data taktis secara real time antar berbagai platform militer.
Sistem ini memungkinkan komunikasi data antara kapal perang, pesawat militer, kendaraan tempur, kendaraan taktis, hingga pusat komando dan pengendalian operasi (puskodal).
Dengan dukungan jaringan radio komunikasi, satelit komunikasi, serta jaringan komunikasi terestrial, sistem ini memungkinkan koordinasi operasi militer lintas matra berjalan lebih efektif dan aman.
Kemampuan pertukaran data secara cepat dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan respons operasional di medan tempur modern.
Sistem Navigasi CENTRINAV Sinkronkan Data Kapal Perang
Dalam aspek navigasi, PT Len Industri juga mengembangkan Navigation Data Distribution Unit (NDDU) CENTRINAV.
Teknologi ini berfungsi sebagai pusat distribusi data navigasi yang menghubungkan berbagai sensor navigasi di kapal dengan sejumlah sistem lainnya.
Data navigasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh berbagai sistem penting seperti CMS, Electronic Chart Display and Information System (ECDIS), radar pengawasan, hingga sistem persenjataan kapal.
Dengan integrasi ini, seluruh sistem di kapal perang dapat bekerja secara sinkron dengan akurasi data navigasi yang lebih tinggi.
Direktur Utama PT Len Industri, Prof. Joga Dharma Setiawan, Ph.D., mengatakan pengembangan teknologi CMS, TDL, dan NDDU merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung modernisasi alutsista nasional.
Menurutnya, integrasi teknologi sensor, komunikasi, navigasi, dan sistem persenjataan dalam satu sistem terpadu akan meningkatkan efektivitas operasi militer sekaligus mempercepat pengambilan keputusan di medan operasi.
Melalui pengembangan teknologi tersebut, PT Len Industri menargetkan terciptanya sistem pertahanan yang lebih terintegrasi, interoperable, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi militer global.
Upaya ini juga diharapkan dapat memperkuat kemampuan pertahanan Indonesia sekaligus mendorong kemandirian industri strategis dalam negeri.*