Industri Tekstil RI Kekurangan 100 Tenaga Ahli
VIVATechno - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) kembali menunjukkan sinyal kebangkitan. Namun, di balik lonjakan permintaan tenaga kerja, justru muncul persoalan serius: jumlah lulusan yang tersedia tak cukup memenuhi kebutuhan industri.
Fakta ini mencuat dalam ajang tahunan Texture Career Days 2025 yang digelar oleh Politeknik STTT Bandung pada akhir pekan ini.
Tahun ini, sebanyak 23 perusahaan tekstil dan garmen berpartisipasi dalam job fair tersebut — naik signifikan dibanding 19 perusahaan pada tahun lalu.
“Permintaan lulusan meningkat tajam. Tahun ini saja ada 23 perusahaan bergabung, padahal tahun lalu baru 19,” ujar Direktur Politeknik STTT Bandung, R. Arief Dewanto, di sela acara.
Kebutuhan 400, Lulusan Hanya 289
Menurut Arief, tahun ini Politeknik STTT Bandung meluluskan 289 mahasiswa, terdiri atas 283 sarjana terapan dan 6 magister.
Namun, total kebutuhan industri mencapai lebih dari 400 posisi — artinya ada kekurangan lebih dari 100 tenaga profesional.
“Gap-nya besar. Industri butuh sekitar 400 orang, sementara kami hanya meluluskan sekitar 300. Bahkan ada perusahaan yang ingin langsung merekrut 100 lulusan terbaik untuk posisi manajerial,” ungkapnya.
Direktur Politeknik STTT Bandung, R. Arief Dewanto
- Istimewa
Platform Digital Penyalur SDM Tekstil
Untuk menjembatani tingginya kebutuhan tenaga kerja, Politeknik STTT Bandung menghadirkan platform digital bernama TKAR (Textile Career).
Platform ini menjadi penghubung antara perusahaan dan alumni, baik lulusan baru maupun yang sudah berpengalaman.
“TKAR ini jadi jembatan informasi antara kebutuhan industri dan lulusan. Bukan hanya fresh graduate, tapi alumni juga bisa ikut,” jelas Arief.
Semua program studi di kampus ini mulai dari Teknik Tekstil, Kimia Tekstil, hingga Garmen dan Fashion Design disebut masih sangat diminati industri.
Untuk memastikan kualitas, Politeknik STTT Bandung menerapkan kurikulum dual system. Mahasiswa diwajibkan menjalani masa magang lebih lama di industri, sehingga ketika lulus mereka sudah terbiasa dengan dunia kerja.
Selain itu, setiap mahasiswa wajib mengikuti uji kompetensi level 6 (Middle Management) yang disertifikasi langsung oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Kami ingin lulusan tidak hanya punya ijazah, tapi juga sertifikat kompetensi resmi dari BNSP. Itu menjadi nilai tambah besar saat bersaing di dunia kerja,” tegas Arief.
“Hampir 90 persen mahasiswa kami lulus uji kompetensi. Jadi kami jamin mereka siap pakai di industri,” tambahnya.