Teknologi Pertanian Terbaru, Bantu Petani Hindari Rugi Jutaan per Hektar
VIVATechno – Petani Indonesia kini punya senjata ampuh untuk melindungi hasil panen. Produk Incipio 200 SC dari Syngenta Indonesia berhasil meraih Top Innovation Choice Award 2024, berkat teknologi Plinazolin yang terbukti efektif mengendalikan hama penggerek batang padi kuning.
Penghargaan bergengsi ini diberikan oleh INFOBRAND.ID bersama TRASN CO Indonesia dalam acara yang berlangsung di Front One Akshaya Hotel, Karawang, Jawa Barat.
Piagam penghargaan diserahkan langsung oleh CEO INFOBRAND.ID, Susilowati Ningsih, kepada Suhendro, Marketing Head PT Syngenta Indonesia.
Tak hanya insan redaksi dan pihak perusahaan, acara ini juga dihadiri lebih dari 50 petani muda dari komunitas GenAgri (Generasi Petani Muda untuk Negeri).
Inovasi untuk Atasi Ancaman Hama Padi
Hama penggerek batang padi kuning menjadi mimpi buruk petani karena bisa merusak panen hingga 30 persen, bahkan mencapai 95 persen jika menyerang di fase generatif dengan potensu kerugian finansialnya bisa menembus jutaan rupiah per hektar.
Syngenta Indonesia
- Istimewa
Melihat ancaman ini, Syngenta menghadirkan Incipio 200 SC sebagai solusi nyata. Produk ini dikembangkan melalui riset panjang dengan lebih dari 10.000 uji lapangan dan 100 uji laboratorium hingga menemukan formula terbaik.
Produk berbasis teknologi PLINAZOLIN® ini menawarkan tiga keunggulan yang dibutuhkan petani yaitu Kendali Superior efektif melawan hama penggerek batang padi. Perlindungan Lebih Lama bertahan hingga 14–21 hari. Anakan Lebih Sehat mendukung peningkatan produktivitas panen.
Teknologi ini bekerja dengan cara menyerang sistem saraf serangga, membuat larva lumpuh, tidak bisa makan, lalu mati. Uniknya, formulasi Incipio membentuk kristal kuat pada permukaan daun sehingga tidak mudah hilang meski terkena hujan atau sinar matahari.
Dampak Nyata bagi Petani
Berdasarkan hasil uji coba, petani yang menggunakan Incipio 200 SC bisa menambah 5–8 anakan per rumpun dibanding produk sejenis. Jika tidak menggunakan teknologi ini, potensi kerugian panen mencapai 1,7 ton per hektar atau setara Rp7,6 juta.
“Dalam waktu kurang dari setahun, Incipio sudah memimpin pasar insektisida padi di Indonesia. Kepercayaan ini jadi motivasi kami untuk terus menghadirkan inovasi demi kemajuan pertanian Indonesia,” ujar Suhendro.