Ekspektasi vs Realita: 30 Hari Bareng OnePlus Tablet 2 Pro

OnePlus Pad2
Sumber :
  • pinterest

VIVATechno - Penggunaan tablet flagship kerap memberikan ekspektasi yang sangat tinggi, terutama pada perangkat yang berani menyematkan embel-embel "Pro" di belakang namanya. 

Bahaya Lupa Amankan Data Digital, Pakar Siber Ungkap Modus Peretasan Baru!

Sejak diluncurkan dan masuk ke pasar global, OnePlus Pad 2 Pro atau yang lebih sering dicari pengguna dengan nama OnePlus Tablet 2 Pro berhasil mencuri perhatian para pecinta gadget berkat performa buasnya.

Ditenagai oleh chipset kelas atas Qualcomm Snapdragon 8 Elite yang sangat kencang, disokong RAM hingga 16GB, serta baterai monster berkapasitas 12.140 mAh, tablet ini di atas kertas adalah penantang serius bagi dominasi iPad dan Samsung Galaxy Tab S-series. 

Dari Reseller ke Bisnis Top Up Game 24 Jam, Ini Strategi Ekspansi Bossdiamond

Namun, spesifikasi di atas kertas terkadang tidak menceritakan keseluruhan kisah yang sebenarnya.

Setelah mengujinya secara langsung sebagai perangkat utama harian (untuk bekerja, hiburan, dan editing) selama 30 hari penuh hingga pertengahan Juli 2026 ini, ada beberapa fitur premium yang ternyata sangat memengaruhi kenyamanan dan pengalaman penggunaan sehari-hari.

Jalan Banjarwangi Kembali Viral, Usai Batal Diperbaiku

Desain Mewah, Tapi Mengorbankan Sektor Keamanan dan Durabilitas

Secara fisik, OnePlus Tablet 2 Pro memang tampil sangat menawan dan kokoh dengan build quality dari rangka aluminium. Ketebalannya yang hanya sekitar 6 mm memberikan kesan ultra-premium saat digenggam. 

Sayangnya, ada kompromi besar yang dilakukan OnePlus di sektor keamanan yang langsung terasa sejak hari pertama pemakaian. Hal yang paling membuat frustrasi selama sebulan terakhir menggunakan tablet ini adalah tidak adanya sensor fingerprint scanner. 

Tablet seharga kelas "Pro" ini sepenuhnya hanya mengandalkan sensor pengenalan wajah (Face Unlock) atau input PIN konvensional. Di lingkungan kerja dengan pencahayaan yang minim, atau saat tablet sedang diletakkan miring di atas meja, absennya sensor biometrik fisik ini terasa sangat menyulitkan. 

Selain itu, ketiadaan sertifikasi IP Rating resmi (tahan air dan debu) membuat saya harus ekstra hati-hati saat membawanya nongkrong atau bekerja di kafe berkonsep outdoor.

Layar 144Hz, Sayangnya Masih Bertahan dengan IPS LCD

Sebagai media konsumsi, OnePlus memberikan layar super lega berukuran 13,2 inci dengan refresh rate 144Hz dan resolusi tajam yang memanjakan mata. Fitur Open Canvas untuk multitasking juga berjalan dengan sangat mulus tanpa lag sedikitpun.

Untuk penggunaan produktivitas harian seperti mengetik atau browsing, layar ini memang luar biasa. 

Namun, ketika tablet ini digunakan untuk menonton film resolusi tinggi di malam hari atau mengedit video dengan grading warna-warna gelap, absennya panel AMOLED atau OLED sangat terasa. 

Pengguna di berbagai forum teknologi terkemuka seperti GSMArena banyak yang mempertanyakan dan menyayangkan keputusan mempertahankan panel IPS LCD pada varian Pro ini. 

Kualitas warna hitamnya tidak bisa sepekat layar OLED, yang membuat predikat "Pro" pada tablet ini terasa nanggung, terutama bagi para kreator multimedia profesional yang membutuhkan akurasi kontras tingkat tinggi.

Jika Anda berharap tablet ini bisa sepenuhnya mandiri dan lepas dari bayang-bayang smartphone Anda, bersiaplah untuk merasa sedikit kecewa.

Sulit Menjadi Pengganti Laptop Mandiri Tanpa Seluler dan GPS

Selama 30 hari pemakaian dengan mobilitas tinggi, ketiadaan varian yang mendukung slot SIM card (tidak ada dukungan jaringan seluler 4G/5G mandiri) dan absennya cip GPS fisik cukup menghambat produktivitas. 

Beberapa pengguna bahkan mengeluhkan ketidakmampuan tablet ini dijadikan alat navigasi (seperti head unit di dalam mobil) secara akurat karena tidak ada GPS bawaan. 

OnePlus merancang tablet ini agar sangat bergantung pada fitur konektivitas tethering yang harus terus terhubung ke smartphone Anda. Lebih lanjut, tidak adanya slot ekspansi MicroSD membuat kapasitas penyimpanan internal (256GB atau 512GB) menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. 

Bagi fotografer atau videografer yang sering memindahkan puluhan Gigabyte data mentah, ketiadaan opsi ekspansi ini adalah sebuah kerugian nyata. 

Belum lagi, port audio jack 3.5mm juga resmi dihilangkan, sehingga memaksa pengguna untuk terus bergantung pada perangkat True Wireless Stereo (TWS) atau repot membawa dongle USB-C ke mana-mana.

Setelah melalui 30 hari penggunaan intensif, OnePlus Tablet 2 Pro terbukti merupakan mesin komputasi bertenaga tinggi untuk multitasking, bekerja, dan bermain game berat berkat sokongan dapur pacu Snapdragon 8 Elite. 

Namun, pemotongan signifikan pada fitur esensial seperti layar OLED, fingerprint scanner, cip GPS, dan ketiadaan varian seluler membuatnya lebih cocok disebut sebagai "Tablet Premium Wi-Fi" ketimbang perangkat "Pro" tanpa kompromi. 

Jika ekspektasi Anda adalah perangkat pendamping yang menumpang koneksi HP, ini adalah pilihan solid. Namun, jika Anda mencari tablet mandiri yang sempurna, Anda harus siap berdamai dengan hilangnya fitur-fitur penting tersebut.*