43 Ribu Pendamping PMN Wajib Turun Gunung Optimalkan Potensi 23,3 Juta Nasabah
- Istimewa
VIVA - Permodalan Nasional Madani (PNM) terus memperkuat perannya sebagai lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui layanan pembiayaan dan pendampingan usaha.
Hingga Juni 2026, PNM tercatat telah melayani sebanyak 23,3 juta nasabah PNM Mekaar di seluruh Indonesia. Mayoritas nasabah merupakan perempuan prasejahtera yang menjalankan usaha ultra mikro dan menjadi penopang ekonomi keluarga.
Kehadiran PNM dinilai membantu membuka akses pembiayaan bagi masyarakat yang sebelumnya belum tersentuh layanan keuangan formal.
Direktur Utama PNM, Kindaris, mengatakan bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya diukur dari besarnya penyaluran pembiayaan, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan langsung oleh nasabah.
“Setiap pembiayaan yang diberikan harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup nasabah dan keluarganya. Karena itu kami tidak hanya hadir sebagai lembaga pembiayaan, tetapi juga sebagai sahabat pemberdayaan yang mendampingi perempuan prasejahtera untuk tumbuh dan berdaya,” ujar Kindaris.
Dampak program pemberdayaan PNM tercermin dalam hasil kajian independen INDEKSTAT tahun 2025. Berdasarkan kajian tersebut, rata-rata pendapatan bersih nasabah meningkat dari Rp2,02 juta menjadi Rp2,90 juta per bulan. Kenaikan tersebut setara dengan tambahan sekitar Rp875 ribu per bulan.
Selain itu, kemampuan pengembangan usaha nasabah juga meningkat hampir 29 persen.
PNM menilai peningkatan tersebut menunjukkan bahwa akses pembiayaan yang dibarengi dengan pendampingan usaha mampu memperkuat kapasitas pelaku usaha ultra mikro agar lebih berkembang dan bertahan di tengah tantangan ekonomi.
Fokus pada Nasabah Unbankable dan Ultra Mikro
Saat ini PNM telah hadir di 36 provinsi dengan dukungan 58 kantor cabang dan lebih dari 4.000 unit layanan Mekaar. Perusahaan juga didukung lebih dari 43 ribu Account Officer yang melakukan pendampingan langsung kepada nasabah di berbagai daerah.
Mayoritas nasabah PNM berasal dari kelompok unbankable dan unfeasible yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal maupun teknologi digital.
Melalui pendekatan pemberdayaan berbasis pendampingan, PNM berupaya membangun kepercayaan diri, kapasitas usaha, hingga ketahanan ekonomi keluarga nasabah secara berkelanjutan.
PNM menyatakan akan terus memperluas jangkauan pemberdayaan agar semakin banyak perempuan prasejahtera mampu naik kelas dan mengembangkan usaha mereka.