Indonesia Bersaing di WSIS 2026, Rumah Pendidikan dan Bug Bounty Masuk Ajang PBB
- Istimewa
VIVATechno - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak masyarakat Indonesia memberikan dukungan terhadap dua inovasi digital nasional yang berhasil menembus nominasi ajang global International Telecommunication Union World Summit on the Information Society (WSIS) Prizes 2026.
Penghargaan ini berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menjadi salah satu indikator penting dalam pengakuan inovasi teknologi berbasis dampak sosial.
Dua inovasi yang dimaksud adalah Super Aplikasi Rumah Pendidikan dan program Anugerah Bug Bounty.
Keduanya masing-masing masuk dalam kategori C7 (e-Government) dan C5 (Building Confidence and Security in the Use of ICT), serta kini bersaing menuju lima besar terbaik (Champion Projects) dari total 20 nominasi global di setiap kategori.
Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikdasmen, Wibowo Mukti, menyampaikan bahwa partisipasi publik menjadi faktor krusial dalam menentukan hasil akhir.
Masyarakat dapat memberikan suara melalui laman resmi voting dengan memilih kategori terkait dan menekan opsi “Vote for this project” pada masing-masing inovasi.
Berdasarkan informasi resmi, periode pemungutan suara berlangsung hingga 3 Mei 2026 pukul 23.00 UTC+02:00 atau setara 4 Mei 2026 pukul 04.00 WIB. Dukungan luas dari masyarakat dinilai mampu memperbesar peluang Indonesia meraih posisi terbaik di tingkat global.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menegaskan bahwa pencapaian ini mencerminkan kemajuan signifikan dalam transformasi digital sektor pendidikan nasional. Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif dalam proses voting.
Ajang WSIS Prizes sendiri merupakan program tahunan yang diselenggarakan sejak 2012 oleh ITU untuk mengapresiasi inovasi teknologi informasi dan komunikasi yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di berbagai negara.
Program Anugerah Bug Bounty dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat ketahanan siber di lingkungan pendidikan. Program ini melibatkan pelajar, mahasiswa, hingga tenaga pendidik dalam mengidentifikasi potensi celah keamanan digital secara kolaboratif.
Sementara itu, Rumah Pendidikan hadir sebagai platform terintegrasi yang menggabungkan lebih dari 950 layanan pendidikan dalam satu aplikasi.
Platform ini telah digunakan oleh puluhan juta pengguna di Indonesia dan menjadi bagian dari strategi layanan pendidikan berbasis digital yang responsif dan inklusif.