Rekor MURI dan 13 Ribu Jamaah, Alasan Hanania Masih Dipercaya
VIVATechno - Proses mediasi antara Kementerian Haji (Kemenhaj) dan PT Khazanah Tamma Internasional (Hanania Travel) terkait pemberangkatan umrah Syawal menghadirkan dinamika tak biasa.
Alih-alih berlangsung tegang, pertemuan pada Selasa (14/4/2026) justru berubah menjadi forum kolaboratif antara regulator dan jamaah.
Dalam forum tersebut, perwakilan Kemenhaj mengungkap fakta kapasitas operasional Hanania Travel yang sebelumnya mampu memberangkatkan hingga 13 ribu jamaah dalam satu musim umrah.
Pernyataan ini memicu respons emosional dari jamaah yang hadir, yang menilai perusahaan tersebut masih memiliki potensi untuk pulih.
Sejumlah jamaah secara terbuka menyampaikan dukungan moral agar Hanania Travel dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi dan kembali beroperasi secara optimal.
Suasana mediasi pun bergeser dari formal menjadi lebih konstruktif, dengan fokus pada penyelesaian bersama.
Rekam Jejak Operasional dan Tantangan Komunikasi
Data historis menunjukkan Hanania Travel bukan pemain kecil di industri umrah nasional.
Perusahaan ini pernah mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan menghimpun 2.022 alumni jamaah dalam satu momentum, sebuah capaian yang memperkuat posisi mereka di sektor travel umrah.
Namun, persoalan pemberangkatan jamaah umrah Syawal sempat menimbulkan persepsi negatif di ruang publik.
Meski demikian, dalam proses mediasi terungkap bahwa Hanania Travel secara aktif melaporkan perkembangan refund dan reschedule kepada Kemenhaj.
Pihak perusahaan juga dinilai kooperatif terhadap regulator. Adapun kendala utama yang diakui adalah lemahnya komunikasi kepada jamaah pada fase awal krisis, yang kini mulai diperbaiki melalui pendekatan lebih terbuka dan sistematis.
Kolaborasi Jamaah Percepat Penyelesaian Administratif
Menariknya, jamaah terdampak tidak sepenuhnya bersikap pasif. Dalam proses penyelesaian, mereka justru berpartisipasi aktif membantu kelengkapan administrasi guna mempercepat proses validasi data refund dan penjadwalan ulang.
Salah satu perwakilan jamaah menyebut langkah kolaboratif ini sebagai model penyelesaian yang konstruktif antara penyelenggara dan konsumen.
Pasca mediasi, jamaah bahkan membentuk grup komunikasi berbasis WhatsApp beranggotakan sekitar 200 orang.
Grup tersebut difungsikan sebagai kanal koordinasi dan dukungan psikologis, bukan untuk memperkeruh situasi. Narasi yang berkembang di dalamnya cenderung mendorong penyelesaian berbasis kepercayaan dan menunggu realisasi komitmen perusahaan.