Format Baru Genera-Z Berbakti 2026 yang Bikin Mahasiswa Harus Siap Adu Argumen

Genera-Z Berbakti 2026
Sumber :
  • Istimewa

VIVA – Program Genera-Z Berbakti 2026 yang diselenggarakan Bakti BCA menghadirkan perubahan signifikan pada babak final. 

img_title Kuliah Umum Web3 di Samarinda Hadirkan Pakar Industri Kripto

Format penjurian terbaru tersebut membuat delapan tim finalis harus menyusun strategi berbeda dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika sebelumnya peserta mengacu pada pola kompetisi edisi 2025, kini setiap tim dihadapkan pada mekanisme baru yang tidak hanya menguji kualitas gagasan, tetapi juga kemampuan komunikasi dan penguasaan materi dari setiap anggota tim.

img_title Bongkar Setup Trading Otomatis: Cara Pantau Ribuan Aset Kripto dalam Hitungan Detik

Dalam babak final, peserta dinilai oleh tiga panelis, yakni Duta Bakti BCA Nicholas Saputra, entertainer sekaligus sociopreneur Cinta Laura Kiehl, dan ilmuwan serta wirausaha sosial Tri Mumpuni.

Tiga Tahapan Penjurian Menguji Kemampuan Finalis

img_title 3 Syarat Mutlak Agar Uang di Bank Dijamin Sepenuhnya oleh LPS

Babak final terdiri atas tiga tahapan utama, yaitu Idea Pitch, Think Tank, dan Head to Head. Pada sesi Idea Pitch, setiap tim diberikan waktu 10 menit untuk mempresentasikan rancangan program yang akan diterapkan di desa wisata binaan.

Selanjutnya, pada sesi Think Tank, finalis harus menjawab pertanyaan panelis dalam waktu 60 detik. Apabila panelis memberikan tanggapan, peserta memiliki kesempatan memberikan respons lanjutan selama maksimal 30 detik.

Tahapan terakhir adalah Head to Head, yakni sesi adu argumentasi antartim. Pada tahap ini, peserta dapat saling memberikan pertanyaan, mempertahankan ide, sekaligus menguji kekuatan program yang diajukan.

Perubahan terbesar tahun ini adalah ketentuan bahwa setiap tahapan wajib diwakili oleh anggota tim yang berbeda. Dengan demikian, seluruh anggota memperoleh kesempatan yang sama untuk tampil di depan panelis.

Perubahan format tersebut diakui mengejutkan sejumlah peserta. Tessa dari tim DESA HIDUP perwakilan UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengaku sempat merasa gugup ketika mengetahui aturan baru tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Awalnya perasaan saya tidak karuan dan benar-benar gugup. Namun, saya berusaha untuk bisa tersenyum. Momen yang paling membanggakan adalah ketika saya bisa berbicara dan menjawab pertanyaan panelis," ujar Tessa.

Pengalaman serupa juga dirasakan Faruq dari tim Laskar Selasik Universitas Gadjah Mada. Menurutnya, rasa gugup sempat muncul hingga terpikir untuk digantikan rekannya. Namun, ia memilih fokus menyampaikan isi presentasi yang telah dipersiapkan bersama tim.

Halaman Selanjutnya
img_title