Meta Rilis Kacamata AI Murah, Tanda Akhir Dominasi Smartphone?

Meta Rilis Kacamata AI Murah, Tanda Akhir Dominasi Smartphone?
Sumber :
  • Pinterest

 

Polres Garut Luncurkan 10 Trainer Paham AI, Cegah Kejahatan Berbasis AI

VIVA Techno – Industri teknologi global mulai memasuki fase baru ketika sejumlah perusahaan raksasa berlomba menghadirkan perangkat yang digadang-gadang mampu mengurangi ketergantungan pengguna terhadap smartphone. Jika selama lebih dari satu dekade ponsel menjadi pusat aktivitas digital, kini perhatian mulai bergeser ke perangkat wearable yang lebih praktis dan selalu terhubung dengan kecerdasan buatan (AI).

Perdebatan mengenai masa depan smartphone sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah tokoh teknologi dunia bahkan sudah berulang kali menyampaikan prediksi bahwa dominasi ponsel suatu saat akan berakhir. Namun, perkembangan teknologi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir membuat skenario tersebut mulai terlihat lebih realistis.

Salah satu nama yang paling vokal adalah Elon Musk. Pendiri Neuralink itu pernah menyampaikan visinya mengenai masa depan interaksi manusia dengan teknologi melalui chip yang ditanam langsung ke otak. Dalam pandangannya, manusia kelak tidak lagi memerlukan perangkat fisik seperti smartphone untuk mengakses informasi atau berkomunikasi.

Sementara itu, CEO Meta, Mark Zuckerberg, memiliki pendekatan yang berbeda. Ia menilai kacamata pintar atau smart glasses akan menjadi perangkat komputasi utama berikutnya yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Prediksi tersebut kini semakin terlihat melalui langkah terbaru Meta yang kembali memperluas portofolio perangkat wearable berbasis AI.

Berdasarkan laporan sejumlah media teknologi internasional, Meta bersama EssilorLuxottica resmi memperkenalkan seri kacamata AI terbaru dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan produk smart glasses yang selama ini beredar di pasar.

Perangkat tersebut dibanderol mulai US$299 atau sekitar Rp5,3 juta. Angka itu menjadi perhatian karena jauh lebih rendah dibandingkan Ray-Ban Meta versi display yang dipasarkan di kisaran US$800 atau sekitar Rp14 jutaan.

Strategi harga ini menunjukkan perubahan pendekatan Meta. Jika sebelumnya smart glasses lebih banyak menyasar segmen premium, kini perusahaan tampaknya ingin menjangkau konsumen yang lebih luas agar teknologi AI wearable bisa diadopsi secara massal.

Langkah tersebut cukup masuk akal. Salah satu hambatan terbesar perkembangan smart glasses selama beberapa tahun terakhir adalah harga yang relatif mahal sehingga sulit bersaing dengan smartphone yang sudah dimiliki hampir semua orang.

Menariknya, seri terbaru ini menjadi produk pertama Meta yang tidak menggunakan nama besar merek fesyen populer seperti Ray-Ban maupun Oakley sebagai identitas utama produknya.

Meski demikian, Meta tetap berupaya mempertahankan unsur gaya melalui berbagai pilihan desain bingkai. Pengguna dapat memilih model berbentuk bulat hingga bingkai oval tipis yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan Kylie Jenner.

Dari sisi teknologi, perangkat ini menjadi AI glasses pertama yang diluncurkan dengan dukungan Meta AI yang ditenagai Muse Spark. Teknologi tersebut merupakan model AI pertama yang lahir dari Superintelligence Labs milik Meta.

Kehadiran AI secara langsung di dalam kacamata menjadi faktor yang membedakannya dari perangkat wearable generasi sebelumnya. Pengguna tidak hanya mengenakan aksesori pintar, tetapi juga memperoleh akses ke berbagai kemampuan AI yang dapat membantu aktivitas sehari-hari melalui interaksi yang lebih natural.

Bagi pengguna, konsep ini berpotensi menghadirkan pengalaman yang lebih praktis dibandingkan harus terus-menerus mengeluarkan smartphone dari saku untuk mencari informasi, membaca notifikasi, atau menjalankan perintah tertentu.

Meta sendiri tampak sangat serius dalam mengembangkan kategori produk ini. Perusahaan telah menggelontorkan investasi miliaran dolar AS untuk mewujudkan konsep "personal intelligence", yaitu perangkat pribadi yang mampu menghadirkan kemampuan AI secara langsung kepada pengguna kapan pun dibutuhkan.

Dari sisi pasar, peluang smart glasses memang mulai terlihat menjanjikan. Menurut data firma riset IDC, pengapalan smart glasses global mencapai 9,6 juta unit sepanjang tahun lalu.

Dalam pasar tersebut, Meta menjadi pemain dominan dengan pangsa pasar mencapai 76,1 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan berada dalam posisi yang sangat kuat untuk mendorong adopsi teknologi wearable berbasis AI secara global.

Peluncuran produk ini juga terjadi hanya beberapa hari setelah Snap memperkenalkan kacamata augmented reality (AR) terbaru dengan harga sekitar US$2.195 atau setara Rp39 juta.

Perbedaan keduanya cukup signifikan. Kacamata AR milik Snap berfokus pada penambahan objek digital ke dunia nyata yang dilihat pengguna. Sementara itu, produk Meta lebih menitikberatkan pada interaksi AI dan tampilan informasi berbasis teks yang lebih sederhana.

Dari perspektif pasar, pendekatan Meta berpotensi lebih mudah diterima konsumen umum. Harga yang lebih rendah membuat hambatan masuk menjadi jauh lebih kecil, sementara fitur AI yang langsung terasa manfaatnya dapat mendorong penggunaan harian.

Meski demikian, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa smartphone akan benar-benar tergantikan dalam waktu dekat. Ponsel masih menawarkan fungsi yang jauh lebih lengkap, mulai dari produktivitas, hiburan, fotografi hingga komunikasi.

Namun, tren yang sedang berkembang menunjukkan bahwa perangkat wearable berbasis AI mulai bergerak dari sekadar produk eksperimental menuju kategori konsumen massal. Jika harga terus turun dan kemampuan AI semakin matang, smart glasses bisa menjadi perangkat pendamping utama sebelum suatu saat mengambil sebagian peran smartphone.

Peluncuran kacamata AI terbaru Meta menjadi sinyal kuat bahwa persaingan teknologi masa depan tidak lagi hanya terjadi di pasar smartphone. Dalam beberapa tahun mendatang, industri kemungkinan akan semakin fokus pada perangkat wearable yang lebih ringan, lebih personal, dan terintegrasi penuh dengan kecerdasan buatan. Bukan tidak mungkin, era dominasi smartphone perlahan mulai memasuki babak baru.*