Perbedaan Chipset Exynos dan Snapdragon: Mana yang Lebih Unggul?
- Samsung
VIVATechno – Dalam dunia smartphone, performa tidak hanya ditentukan oleh desain atau kamera, tetapi juga oleh komponen inti yang disebut chipset.
Chipset inilah yang menjadi “otak” dari perangkat, menentukan seberapa cepat aplikasi berjalan, sehemat apa daya tahan baterai, dan sebaik apa pengalaman bermain game atau menonton video.
Dua nama chipset yang paling sering terdengar, khususnya di lini produk Samsung, adalah Exynos dan Snapdragon.
Kedua chipset ini sama-sama digunakan di berbagai perangkat Samsung, dari ponsel entry-level hingga flagship.
Namun, apa sebenarnya perbedaan antara keduanya? Mana yang lebih unggul dalam hal performa, efisiensi daya, dan pengalaman pengguna?
Asal dan Produsen
Perbedaan mendasar antara Exynos dan Snapdragon terletak pada produsen serta negara asalnya.
Exynos adalah chipset buatan Samsung Electronics asal Korea Selatan.
Chipset ini banyak digunakan pada produk-produk Samsung, termasuk smartphone, tablet, dan jam tangan pintar mereka.
Sementara itu, Snapdragon adalah chipset buatan Qualcomm, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat.
Selain digunakan di berbagai produk Samsung, chipset ini juga banyak ditemukan pada smartphone dari berbagai merek global.
Penggunaan di Berbagai Model Samsung
Samsung kerap merilis model smartphone dengan dua varian chipset berbeda untuk pasar yang berbeda.
Beberapa wilayah mendapatkan varian dengan Exynos, sementara wilayah lain mendapatkan varian Snapdragon.
Sebagai contoh, Samsung Galaxy S22 dan S22 Ultra tersedia dengan Exynos 2200 di beberapa negara, sedangkan di wilayah seperti Amerika Serikat, model yang sama menggunakan Snapdragon 8 Gen 1.
Contoh lain, beberapa model seperti Samsung Galaxy A73 dan Galaxy M23 umumnya hadir dengan Snapdragon.
Teknologi Chipset dan Performa
Baik Exynos maupun Snapdragon memiliki lini chipset kelas flagship. Misalnya, Exynos 2200 dan Snapdragon 8 Plus Gen 1 sama-sama dibangun dengan teknologi fabrikasi 4 nanometer.
Teknologi ini memungkinkan ukuran transistor dalam chip menjadi lebih kecil, sehingga dapat dimasukkan lebih banyak transistor dalam ruang sempit.
Hasilnya, performa menjadi lebih tinggi dan efisiensi daya meningkat.
Keduanya juga memiliki jumlah inti (core) yang sama, yakni octa-core atau delapan inti prosesor.