Konten Digital Semakin Ganas, Anak Indonesia Bisa Trauma Seumur Hidup

Ilustrasi Screen Time Anak
Sumber :
  • Pinterest

VIVATechno — Fenomena anak yang “dipaksa dewasa” akibat paparan digital kini menjadi sorotan serius. Aktivis anak dan perempuan, Ade Fitrie Kirana, menegaskan bahwa negara tidak boleh tinggal diam melihat meningkatnya beban psikologis dan tuntutan sosial yang diterima anak di dunia maya.

Tablet AI 2 Jutaan Melesat: Infinix XPAD dan iQOO Pad 5c Raja Pasar Gadget 2026

Ade menilai, dunia digital sering menghadirkan ekspektasi yang tidak sesuai usia. Anak-anak, khususnya perempuan, rentan mengalami tekanan mental dan risiko trauma akibat konten yang tidak ramah usia.

“Anak-anak harus punya ruang aman untuk belajar, bermain, dan tumbuh sesuai tahap usianya. Paparan konten digital yang tidak tepat bisa menimbulkan trauma jangka panjang,” ujar Ade dalam keterangannya, Jumat 21 November 2025.

AMOLED Tumbang! Ini Alasan E-Ink Kuasai Aksesoris Gadget 2026

Untuk menjawab ancaman tersebut, Ade menjalankan program edukasi digital yang berfokus pada literasi media, keamanan online, dan pendampingan orang tua. 

Program ini digelar di berbagai kota melalui pelatihan, lokakarya, hingga konsultasi personal bagi keluarga dan tenaga pendidik.

Cari Tablet Samsung Bekas? Ini 3 Pilihan Terbaik di Bawah Rp5 Juta

Aktivis anak dan perempuan, Ade Fitrie Kirana

Photo :
  • Istimewa

Beralih dari dunia hiburan ke aktivisme sosial, Ade juga aktif sebagai pengusaha sejak tahun 2000. Ia membangun jaringan mentor yang terdiri dari psikolog, pendidik, dan influencer muda. 

Tujuannya, membantu remaja perempuan memahami risiko dunia digital, sekaligus membentuk empati, keterampilan kritis, dan kecerdasan emosional.

Program ini mendorong anak-anak agar menggunakan teknologi sebagai sarana belajar dan sosialisasi, bukan sumber stres, perundungan, atau tekanan sosial.

Ade juga merekomendasikan sekolah untuk memasukkan literasi digital dan etika bermedia sosial dalam kurikulum pendidikan karakter. 

Ia menekankan pentingnya edukasi bagi orang tua terkait dampak budaya digital yang serba instan.

Menurutnya, literasi digital sejak dini adalah strategi pencegahan paling efektif dibandingkan menunggu masalah muncul.

“Investasi terbesar bangsa adalah anak-anak yang aman, sehat mental, dan bijak mengelola dunia digital. Perlindungan mereka bukan hanya tugas moral, tetapi fondasi penting pembangunan jangka panjang,” tegasnya.

Dengan pendekatan yang menggabungkan edukasi, aksi lapangan, dan advokasi, Ade Fitrie Kirana memastikan bahwa masa depan generasi muda bergantung pada keberanian semua pihak untuk bergerak bersama.