Modus Segitiga: Penipuan Jual Beli Mobil Bekas, Jangan Mudah Tergiur Harga Murah!
VIVATechno – Kasus penipuan jual beli mobil bekas terus bermunculan. Kali ini, modusnya lebih licik, yang mana penipu melakukan aksinya antar pembeli dan penjual asli.
Pelaku memanfaatkan modus segitiga dengan cara mengambil keuntungan dari ketidaktahuan penjual dan pembeli yang tergesa-gesa.
Iming-iming harga miring membuat banyak korban terlena, hingga akhirnya mentransfer uang ke orang yang salah.
Modus penipuan yang diungkap oleh kanal YouTube Otoseken ini berawal dari aksi pelaku yang mencuri foto dan informasi dari iklan jual mobil milik orang lain.
Setelah itu, ia memasarkan ulang mobil tersebut dengan harga jauh lebih murah, biasanya selisih 15–20 juta rupiah. “Kebanyakan konsumen pasti akan tertarik dengan harga yang lebih murah,” ujar Sundoro Edi Pranoto sang CEO Inspector Mobil di kanal Otoseken.
Begini Skema Liciknya Modus Segitiga: Tiga Titik, Satu Korban
Si Penipu (Pelaku utama)
Ia mengaku sebagai pemilik mobil, padahal hanya menyalin iklan asli milik orang lain. Ia pasang harga lebih murah (misalnya Rp180 juta dari harga asli Rp200 juta) untuk menarik korban.
Pemilik Mobil Asli (Tidak tahu apa-apa)
Mobil asli masih dalam kondisi dijual secara normal. Penjual sejati ini sering tidak menyadari kalau iklannya dimanfaatkan.
Pembeli (Korban Penipuan)
Pembeli tertarik dengan harga miring. Mereka diajak bertemu ke lokasi mobil, yang sesuai dengan alamat asli si penjual. Tapi mereka diberi skenario si penjual diwakili “saudara” atau “karyawan”, sedangkan pembayaran tetap harus ditransfer ke pelaku yang mengaku sedang berada di luar kota.
Strategi Si Penipu: Ciptakan Rasa Aman dan Desak untuk Segera Transfer
Pelaku menekankan agar pembeli tidak menanyakan harga ke si "karyawan" atau pemilik mobil yang ada di lokasi. Alasannya dibuat-buat, misalnya: “Nanti dia minta komisi,” atau “Biar tidak bingung, tanya langsung ke saya saja.” Setelah korban merasa yakin, pelaku memberikan nomor rekening dan minta uang ditransfer langsung.
Setelah uang ditransfer, barulah korban sadar bahwa yang ditemui di lokasi bukan pihak yang sama dengan pemilik rekening penerima. Uang pun lenyap tanpa jejak.