AI di Smartwatch Bisa Kenali Gejala Awal Infeksi, Seberapa Akurat?

7 Smartwatch Terbaik untuk Lari 2026, GPS Akurat dan Bantu Tingkatkan Performa Latihan
Sumber :
  • Pinterest

 

Bukan Sekadar Sosialisasi, Polres Garut Cetak Pioner Paham AI di Kalangan Pelajar

VIVA Techno – Smartwatch dan perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin menunjukkan potensi sebagai alat pendeteksi dini berbagai gangguan kesehatan, termasuk infeksi seperti influenza dan COVID-19. Meski kemampuannya terus berkembang, para peneliti dan tenaga medis menegaskan bahwa teknologi ini masih berfungsi sebagai alat pendukung, bukan pengganti diagnosis maupun keputusan klinis dokter.

Perkembangan sensor kesehatan dalam beberapa tahun terakhir membuat smartwatch tidak lagi sekadar digunakan untuk menghitung langkah atau memantau aktivitas olahraga. Kini perangkat tersebut mampu membaca berbagai perubahan fisiologis tubuh secara berkelanjutan sehingga dapat mengenali pola yang berbeda dari kondisi normal pengguna.

Polres Garut Luncurkan 10 Trainer Paham AI, Cegah Kejahatan Berbasis AI

Pendekatan ini menjadi salah satu arah perkembangan industri wearable karena mampu memberikan peringatan lebih cepat dibanding seseorang menyadari gejala yang mulai muncul. Namun, kemampuan tersebut tetap memiliki batas yang perlu dipahami pengguna.

Wearable Membaca Pola Tubuh, Bukan Mendeteksi Virus

Polres Garut Luncurkan 10 Trainer Paham AI, Cegah Kejahatan Berbasis AI

Mengutip laporan penelitian dari Texas A&M dan Stanford, smartwatch memanfaatkan kombinasi data seperti detak jantung, suhu kulit, hingga pola pernapasan untuk mendeteksi adanya perubahan yang mengindikasikan tubuh sedang mengalami gangguan kesehatan.

Artinya, perangkat ini tidak mengidentifikasi keberadaan virus atau bakteri secara langsung. Yang dianalisis adalah penyimpangan pola fisiologis dibanding kondisi normal pemilik perangkat. Ketika terjadi perubahan signifikan, sistem dapat memberikan notifikasi agar pengguna lebih waspada terhadap kemungkinan infeksi.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa apabila peringatan dini dari wearable mendorong seseorang melakukan isolasi mandiri dan segera menjalani pemeriksaan medis, potensi penularan penyakit saat pandemi diperkirakan dapat berkurang hingga 50 persen.

Nilai terbesar teknologi ini bukan terletak pada kemampuan mendiagnosis penyakit, melainkan memberikan sinyal lebih awal sehingga pengguna memiliki waktu lebih cepat untuk mengambil tindakan yang tepat.

Tidak Semua Data Kesehatan Memiliki Tingkat Akurasi yang Sama

Walaupun semakin canggih, tidak seluruh fitur kesehatan pada smartwatch mempunyai tingkat akurasi yang setara.

Salah satu fitur yang telah memperoleh pengakuan regulator adalah deteksi fibrilasi atrium (AFib), seperti yang tersedia pada Apple Watch. Para dokter menilai fitur ini cukup membantu karena gangguan irama jantung tersebut memiliki pola fisiologis yang relatif jelas sehingga lebih mudah diukur menggunakan sensor optik.

Halaman Selanjutnya
img_title