Indonesia Jadi Pemimpin Dunia dalam Diplomasi Vaksin

Biofarma Pimpin DCVMN 2025
Sumber :
  • Istimewa

VIVATechnoIndonesia kembali menegaskan peran strategisnya di panggung kesehatan global. Melalui PT Bio Farma (Persero), Indonesia memimpin jejaring Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN), forum yang menghimpun 46 produsen vaksin dari 17 negara berkembang.

Langkah ini menandai perjalanan panjang Indonesia dalam memperkuat kolaborasi global demi memperluas akses terhadap vaksin aman, berkualitas, dan terjangkau. 

Sejak berdirinya DCVMN pada tahun 2000, Bio Farma telah menjadi salah satu penggerak utama kemandirian vaksin di negara-negara berkembang.

Sejarah keterlibatan Indonesia di DCVMN dimulai pada Annual General Meeting (AGM) pertama di Noordwijk tahun 2000, ketika Bio Farma menjadi salah satu dari 10 pendiri awal jejaring ini.
Setahun kemudian, Bandung menjadi tuan rumah AGM ke-2 DCVMN (2001) momen bersejarah yang meneguhkan posisi Indonesia sebagai pusat pengetahuan dan kolaborasi vaksin dunia.

Pertemuan yang dipimpin oleh Thamrin Poeloengan, Direktur Utama Bio Farma kala itu, menjadi pijakan penting bagi lahirnya tata kelola global dalam industri vaksin negara berkembang.

Bio Farma

Photo :
  • Istimewa

Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menegaskan bahwa keikutsertaan Bio Farma bukan sekadar simbol kehadiran Indonesia di kancah global, melainkan bentuk kontribusi nyata bagi ketahanan kesehatan dunia.

“Keterlibatan Bio Farma dalam DCVMN bukan hanya tentang representasi nasional, tetapi tentang membangun kemandirian vaksin global. Melalui kolaborasi dan inovasi, kami ingin menghadirkan solusi kesehatan yang adil dan berkelanjutan,” ujar Shadiq, Jumat 24 Oktober 2025.

Menurutnya, kekuatan sejati industri vaksin negara berkembang terletak pada kolaborasi, bukan kompetisi. 

“Kami ingin memastikan setiap negara memiliki akses terhadap vaksin yang aman dan terjangkau. Inilah kontribusi nyata Indonesia bagi dunia,” tambahnya.
Pada 2004, Bio Farma bersama anggota DCVMN berhasil memperluas akses vaksin kombinasi DPT-HepB-Hib, hasil transfer teknologi dengan Netherlands Vaccine Institute.

Lompatan besar berikutnya datang pada tahun 2020, saat Bio Farma meluncurkan vaksin nOPV2 vaksin pertama di dunia yang mendapatkan Emergency Use Listing (EUL) dari WHO.

Capaian ini menjadi tonggak global, karena membuka jalan bagi percepatan penggunaan vaksin dalam situasi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
Lebih dari sekadar inovasi ilmiah, nOPV2 menjadi simbol kemandirian teknologi Indonesia dan bukti kepercayaan dunia terhadap kapasitas riset nasional.**