Kenapa HP Flagship Berlomba Pakai Logo Leica? Jawabannya Mengejutkan

OPPO Find X9 Ultra
Sumber :
  • OPPO

Cirebon, VIVA Techno – Vivanians, pernahkah melihat logo Leica, Zeiss, atau Hasselblad terpampang besar di bodi smartphone flagship modern? Bagi sebagian pengguna, keberadaan logo tersebut sering dianggap sebagai bukti bahwa kamera profesional kelas dunia benar-benar dipasang ke dalam smartphone.

img_title HP Lipat Tipis di 2026 Resmi Rilis, Tebalnya Cuma 4,1 mm!

Tidak sedikit pula yang percaya kualitas foto sebuah HP langsung meningkat drastis hanya karena membawa nama besar tersebut. Namun benarkah kamera yang biasa digunakan fotografer profesional dengan harga puluhan hingga ratusan juta rupiah benar-benar berpindah ke smartphone?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Di balik logo yang terlihat sederhana, terdapat kerja sama teknologi yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar pemasangan nama merek. Leica, Zeiss, dan Hasselblad merupakan tiga nama besar yang memiliki reputasi panjang di industri fotografi global.

Leica dikenal sebagai pionir kamera portabel yang membantu mengubah dunia fotografi modern. Banyak momen bersejarah dunia diabadikan menggunakan kamera buatan perusahaan asal Jerman tersebut.

Sementara Zeiss memiliki reputasi luar biasa dalam teknologi optik presisi. Produknya digunakan tidak hanya untuk kamera, tetapi juga teleskop, mikroskop, perangkat medis hingga berbagai kebutuhan industri berteknologi tinggi.

Di sisi lain, Hasselblad merupakan merek kamera legendaris yang namanya melekat dengan berbagai pencapaian sejarah dunia fotografi. Kamera mereka bahkan menjadi bagian dari dokumentasi beberapa misi luar angkasa yang terkenal.

Lantas apa sebenarnya yang mereka lakukan di industri smartphone?

Menurut berbagai pengembang kamera mobile, kolaborasi antara produsen smartphone dan perusahaan fotografi umumnya dilakukan melalui proses co-engineering atau pengembangan bersama.

Artinya, Leica, Zeiss, maupun Hasselblad tidak memproduksi seluruh modul kamera smartphone secara langsung. Sensor gambar tetap dibuat oleh perusahaan semikonduktor khusus, sedangkan komponen kamera diproduksi oleh pemasok yang memang berfokus pada industri perangkat mobile.

Peran utama perusahaan fotografi tersebut berada pada aspek pengembangan karakter gambar, standar kualitas optik, hingga proses penyempurnaan algoritma pengolahan foto. Di era smartphone modern, kualitas kamera tidak lagi hanya ditentukan oleh ukuran sensor atau jumlah megapiksel.

Salah satu faktor paling penting justru terletak pada color science atau teknologi reproduksi warna. Inilah alasan mengapa dua smartphone yang menggunakan sensor kamera serupa bisa menghasilkan foto dengan karakter yang sangat berbeda.

Leica dikenal menghadirkan warna yang natural dengan kontras khas yang sering disukai pecinta fotografi jalanan dan dokumenter. Zeiss lebih fokus pada ketajaman optik, akurasi warna, serta pengendalian pantulan cahaya yang baik.

Sedangkan Hasselblad memiliki reputasi kuat dalam menghasilkan warna yang realistis dan nyaman dipandang dalam berbagai kondisi pencahayaan. Karakter-karakter tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam software kamera smartphone.

Karena itulah pengguna Xiaomi menemukan mode Leica Authentic dan Leica Vibrant, sementara pengguna Vivo mendapatkan profil warna khas Zeiss. Di sisi lain, OPPO menghadirkan Hasselblad Natural Color Calibration pada sejumlah perangkat flagship mereka. Selain warna, kerja sama ini juga berdampak pada kualitas fotografi malam hari dan mode potret.

Teknologi lapisan optik khusus yang dikembangkan melalui kolaborasi tersebut membantu mengurangi flare, ghosting, serta pantulan cahaya yang sering muncul saat memotret di kondisi minim cahaya.

Hasilnya, foto malam terlihat lebih bersih dan detail.

Mode portrait juga mengalami perkembangan signifikan. Efek bokeh yang dihasilkan kini dirancang menyerupai karakter lensa profesional sungguhan, sehingga pemisahan objek dan latar belakang terlihat lebih alami dibanding generasi smartphone beberapa tahun lalu.

Menariknya, tidak semua produsen smartphone memilih bekerja sama dengan perusahaan fotografi legendaris. Apple dan Samsung menjadi contoh dua perusahaan yang lebih mengandalkan riset internal mereka sendiri.

Kedua perusahaan tersebut mengembangkan color science, computational photography, kecerdasan buatan, hingga teknologi pemrosesan gambar secara mandiri. Karena itu, kualitas kamera iPhone maupun Galaxy Ultra tetap mampu bersaing di puncak industri meski tidak menggunakan logo Leica, Zeiss, atau Hasselblad.

Pada akhirnya, yang berpindah ke smartphone bukanlah kamera profesional bernilai ratusan juta rupiah itu sendiri. Yang hadir adalah pengalaman, filosofi fotografi, standar kualitas optik, serta keahlian pengolahan gambar yang telah dibangun selama puluhan hingga ratusan tahun.

Inilah alasan mengapa kolaborasi tersebut masih menjadi salah satu daya tarik terbesar di pasar smartphone flagship hingga saat ini.*

img_title Platform Ini Ajarkan Cara Membeli Smartphone Sesuai Kebutuhan