Microsoft Tinggalkan Password, Teknologi Baru Ini Jadi Standar Login 2026
- Microsoft
VIVATechno – Vivanians, cara masuk ke akun digital yang selama ini mengandalkan password dan kode OTP tampaknya mulai memasuki babak akhir.
Salah satu perusahaan teknologi terbesar dunia, Microsoft, kini semakin serius mendorong pengguna beralih ke metode autentikasi generasi baru yang disebut passkey.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi risiko pembobolan akun yang selama bertahun-tahun banyak terjadi akibat pencurian password, serangan phishing, hingga penyalahgunaan kode verifikasi yang dikirim melalui SMS.
Dalam pengumuman terbarunya, Microsoft menjelaskan bahwa sistem autentikasi berbasis SMS secara bertahap akan dihentikan.
Perusahaan menilai metode lama tersebut sudah tidak lagi mampu memberikan perlindungan optimal di tengah meningkatnya ancaman siber yang semakin kompleks.
Sebagai gantinya, Microsoft mengarahkan pengguna menuju sistem login tanpa password yang mengandalkan teknologi passkey.
Sistem ini memungkinkan pengguna mengakses akun hanya dengan sidik jari, pemindai wajah, atau PIN yang tersimpan langsung di perangkat.
Berbeda dengan password tradisional yang harus diketik dan diingat pengguna, passkey bekerja menggunakan pasangan kunci kriptografi yang tersimpan secara aman.
Saat proses login dilakukan, perangkat akan membuktikan identitas pengguna tanpa perlu mengirimkan kata sandi ke server.
Keunggulan utama teknologi ini adalah data autentikasi rahasia tidak pernah meninggalkan perangkat pengguna.
Karena itu, passkey dinilai lebih tahan terhadap serangan phishing, pencurian kredensial, maupun kebocoran database yang sering terjadi pada sistem password konvensional.
Selain meningkatkan keamanan, pengalaman pengguna juga menjadi lebih praktis. Tidak ada lagi proses memasukkan password panjang, mengingat kombinasi karakter rumit, atau menunggu kode OTP masuk melalui SMS.
Meski demikian, teknologi passkey bukan berarti sepenuhnya tanpa risiko.
Sejumlah peneliti keamanan siber sebelumnya mengungkap bahwa masih terdapat potensi celah yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan digital.
Dalam beberapa skenario tertentu, penyerang disebut mampu memanipulasi proses autentikasi dengan mengeksploitasi alur kerja passkey yang berjalan melalui browser.
Jika berhasil dilakukan, metode tersebut berpotensi menipu sistem agar menganggap proses autentikasi berlangsung secara sah meskipun sebenarnya telah diintervensi pihak lain.