Flagship Vivo hingga Xiaomi Turun Harga, Persaingan Smartphone Makin Sengit!

HP Flagship vs Midrange
Sumber :
  • id.pinterest.com

VIVATechno – Persaingan pasar smartphone flagship Indonesia semakin memanas. Brand-brand China seperti Vivo, Xiaomi, dan Oppo turut menurunkan harga perangkat premium mereka. Meski tidak sedrastis Samsung, penurunan harga ini tetap menarik perhatian konsumen yang mencari alternatif di luar brand Korea dan Amerika.

img_title Beli Tablet Dapat Stylus Gratis? Cek Daftar Rekomendasi Terbarunya!

Strategi pricing brand China memang berbeda dengan Samsung atau Apple. Mereka cenderung memasang harga launching yang lebih konservatif sejak awal. Alhasil, ketika terjadi penyesuaian harga, angkanya memang tidak terlalu fantastis namun tetap memberikan value yang bagus.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yang menarik, beberapa brand China seperti Vivo dan Oppo sangat agresif menjaga harga jual kembali produknya. Mereka bahkan menerapkan sistem kontrol harga ketat kepada retailer offline. Ini membuat flagship mereka tidak cepat terdepresiasi seperti brand lain.

img_title 5 Tablet Berfitur AI Lokal Terbaik Agustus 2026: Pengganti Laptop Cerdas

Berikut empat rekomendasi HP flagship dari brand China yang juga sudah mengalami penurunan harga. Meski tidak sebesar Samsung, pilihan-pilihan ini tetap menawarkan spesifikasi gahar dengan harga yang lebih bersahabat di kantong.

Pertama, Vivo X200 Pro – Tetap Stabil di Pasaran

img_title Huawei MatePad Mini Meluncur: Bodi 5,2mm, OLED 120Hz, dan Baterai 6.400 mAh

 

Vivo X200 Pro

Photo :
  • id.pinterest.com

Vivo X200 Pro menjadi flagship yang paling stabil harganya di kategori Android China. Meski sudah akan ada penerusnya yaitu X300 Pro, harga X200 Pro belum menunjukkan penurunan signifikan. Perangkat ini masih dibanderol sekitar Rp17,9 juta untuk kondisi baru.

Kestabilan harga ini sebenarnya menguntungkan bagi yang sudah membeli lebih awal. Nilai jual kembali X200 Pro masih tinggi, berkisar Rp15 jutaan untuk unit second dengan kondisi bagus. Depresiasi hanya sekitar Rp3-4 juta, jauh lebih baik dibanding flagship brand lain.

Vivo memang dikenal jago menjaga harga produknya di pasaran. Strategi ini membuat konsumen lebih percaya diri membeli produk Vivo karena tidak khawatir harga jatuh drastis. Dengan peluncuran X300 Pro yang kemungkinan akan dibanderol di bawah Rp19 juta, X200 Pro tetap menjadi pilihan solid untuk yang mencari flagship dengan resale value bagus.

Kedua, Xiaomi 14 – Harga Sudah Murah Sejak Awal

 

Xiaomi 14

Photo :
  • YouTube

Berbeda dengan brand lain, Xiaomi 14 memiliki cerita unik soal pricing. Harga launching resminya Rp11,9 juta, namun di pasaran bisa ditemukan lebih murah bahkan lebih mahal. Fenomena ini terjadi karena Xiaomi Indonesia memang terkenal dengan harga yang sangat kompetitif dibanding negara lain.

Saat ini Xiaomi 14 dijual normal di harga Rp10,4 juta setelah sempat turun ke Rp9,9 juta saat event 11.11. Penurunan memang tidak terlalu besar, hanya sekitar Rp1,5 juta dari harga launching. Namun mengingat harga awalnya sudah murah, ini tetap menawarkan value yang excellent.

Strategi pricing agresif Xiaomi sejak awal membuat depresiasinya tidak terlalu terasa. Konsumen mendapat flagship dengan spesifikasi top tier tapi dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Xiaomi 15 series yang baru diluncurkan juga mengikuti pola yang sama, membuat Xiaomi 14 tetap relevan sebagai pilihan budget-conscious.

Ketiga, Oppo Find X8 Pro – Kontrol Harga Ketat

 

OPPO Find X8 Pro

Photo :
  • -

Oppo Find X8 Pro menunjukkan strategi pricing yang menarik dan agak kontroversial. Di official store, harga masih bertahan di Rp19 jutaan meski X9 Pro sudah diluncurkan dengan harga sama. Namun di marketplace, bisa ditemukan di Rp16,4 juta dari Star Seller Plus.

Perbedaan harga yang cukup jauh ini sebenarnya tidak ideal. Seharusnya official store sudah menyesuaikan harga agar konsumen tidak bingung. Dengan harga yang sama, jelas X9 Pro lebih menarik karena spesifikasi lebih baru.

Yang unik dari Oppo adalah sistem kontrol harga yang sangat ketat untuk retailer offline. Toko yang menjual di bawah SRP bisa kena penalti hingga dua digit juta. Oppo bahkan mengirim mystery shopper untuk memantau harga di lapangan. Upaya ini memang berhasil menjaga stabilitas harga, tapi di sisi lain membuat retailer kesulitan bersaing.

Keempat, iPhone 16 Pro – Apple Tetap Jago Jaga Harga

 

iPhone 16 Pro

Photo :
  • id.pinterest.com

Apple memang juaranya dalam menjaga harga produk. iPhone 16 Pro yang diluncurkan belum lama masih bertahan di harga Rp20,2 juta untuk varian 256 GB. Bahkan dengan peluncuran iPhone 17 Pro, harga 16 Pro tidak turun signifikan.

Distributor resmi seperti iBox dan Erajaya sepertinya memiliki kesepakatan diam-diam untuk tidak saling melempar harga. Stabilitas ini menguntungkan konsumen dalam hal resale value. iPhone bekas masih bisa dijual dengan harga yang tidak terlalu jauh dari harga beli.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski iPhone 16e yang notabene adalah SE premium masih bertahan di harga Rp10 jutaan. Apple memang tidak pernah agresif menurunkan harga produknya. Strategi ini membuat produk Apple terasa lebih eksklusif dan menjaga perceived value di mata konsumen.

Brand China dan Apple memiliki pendekatan berbeda dalam strategi pricing flagship mereka. Vivo dan Oppo lebih fokus menjaga stabilitas, Xiaomi agresif sejak awal, sementara Apple tetap premium. Konsumen bisa memilih sesuai prioritas antara harga terjangkau atau resale value tinggi di kategori flagship.*