Kiprah Musik Harpa Indonesia Menguat Jelang 2026 Usai Konser Internasional

Musisi harpa sekaligus aktris Maya Hasan
Sumber :
  • Istimewa

VIVA - Musisi harpa sekaligus aktris Maya Hasan memastikan tetap aktif menjalani tiga bidang profesional yang selama ini digelutinya secara paralel, yakni musik harpa, seni peran, dan praktik music healing, memasuki tahun 2026.

Indonesia Kaya Nikel dan SDA Tapi FDI Tertinggal, Investor Pilih Singapura dan Vietnam

Maya Hasan, yang memiliki nama lengkap Haris Maya Christina Hasan, menyatakan tidak ada perubahan signifikan pada arah kariernya. 

Ia menegaskan bahwa musik harpa tetap menjadi prioritas utama, di samping aktivitas seni dan terapi berbasis musik yang telah ia jalani lebih dari dua dekade.

Tecno Camon 50 Pro 5G Kamera 50MP AI, Ganti HP Lama untuk Konten TikTok Lebih Smooth

Karier Maya di dunia seni dimulai sejak awal 1990-an melalui teater Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI). 

Ia sempat terlibat sebagai sutradara dan penulis naskah di sejumlah sanggar teater sebelum merambah dunia film. Film layar lebar pertamanya, Koper, dirilis pada 2006, namun setelah itu ia vakum bermain film selama sekitar 14 tahun.

Tablet Murah Techno Megapad SE: Fitur Lengkap, Kantong Aman!

Di bidang musik, Maya memulai karier profesional sebagai harpist pada 1993, sepulang dari studi di Willamette University, Oregon, Amerika Serikat. 

Sejak saat itu, ia kerap tampil bersama berbagai orkestra dan ensemble di Indonesia serta bekerja sama dengan sejumlah konduktor nasional.

Selain bermusik, Maya juga mendalami music for healing selama lebih dari 20 tahun. Pada 2013, ia memperoleh lisensi profesional di bidang terapi musik. 

Praktik tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian Grotto, sebuah klinik terapi holistik berbasis musik yang berlokasi di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, dan beroperasi sejak 2020.

Sepanjang 2025, Maya mencatat salah satu pencapaian penting dalam karier musik internasionalnya. 

Ia tampil di Esplanade, Singapura, bersama Shanghai Nine Trees Philharmonic Orchestra di bawah pimpinan konduktor Muhay Tang, berkolaborasi dengan Singapore Strait Ensemble.

Dalam konser tersebut, Maya menjadi satu-satunya musisi asal Indonesia yang tampil pada sesi International Premiere. 

Ia membawakan komposisi berjudul Dreaming of Fengpu karya Danny Dong. Keterlibatan Maya dalam konser ini terjadi setelah posisi harpist dalam orkestra tersebut kosong menjelang jadwal pertunjukan.

Memasuki 2026, Maya menyatakan akan terus menjaga konsistensi latihan, terutama untuk repertoar klasik dan ketahanan fisik yang dibutuhkan dalam memainkan harpa. 

Halaman Selanjutnya
img_title