Tablet Sudah 5G Tapi Internet Masih Lemot? Ini Penyebab Teknisnya

Ilustrasi Tablet
Sumber :
  • Pinterest

VIVATechno - Teknologi 5G sering dipromosikan sebagai jaringan super cepat dengan latensi rendah. 

img_title iPad Mini A17 Pro vs Huawei MatePad Mini: Siapa Raja Tablet Ringkas 2026?

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit pengguna tablet atau smartphone yang sudah menampilkan ikon 5G tetapi tetap mengalami koneksi lambat atau lag saat browsing, streaming, maupun meeting online. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena ini bukan hoaks, melainkan dipengaruhi sejumlah faktor teknis di sisi jaringan, perangkat, dan infrastruktur telekomunikasi.

img_title 5 Tablet Berfitur AI Lokal Terbaik Agustus 2026: Pengganti Laptop Cerdas

Berikut penjelasan teknis mengapa tablet 5G masih bisa terasa lemot pada 2026 berdasarkan sumber resmi industri telekomunikasi dan riset jaringan.

Cakupan Jaringan 5G Masih Terbatas

img_title Tablet Gaming 8 Inci Terbaik Agustus 2026: Libas Game Berat!

Salah satu penyebab utama koneksi terasa lambat adalah ketersediaan jaringan 5G yang belum merata. Di Indonesia, jaringan generasi kelima ini masih dalam tahap ekspansi sehingga tidak semua wilayah memiliki cakupan penuh.

Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), cakupan jaringan 5G nasional masih sekitar 4,44 persen dari total wilayah. Artinya, sebagian besar area masih bergantung pada jaringan 4G meskipun perangkat pengguna sudah mendukung 5G.

Akibatnya, perangkat seperti tablet akan sering berpindah antara jaringan 5G dan 4G (network fallback), yang membuat pengalaman internet terasa tidak stabil.

Keterbatasan Spektrum Frekuensi

Faktor teknis lain adalah keterbatasan spektrum frekuensi 5G yang digunakan operator.

Teknologi 5G idealnya memanfaatkan spektrum frekuensi tinggi seperti millimeter wave (24–100 GHz) yang mampu memberikan bandwidth sangat besar dan kecepatan tinggi. 

Namun, frekuensi ini memiliki jangkauan pendek dan membutuhkan banyak stasiun pemancar tambahan.

Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, implementasi masih banyak menggunakan low-band atau mid-band, sehingga performa yang dirasakan pengguna belum mencapai potensi maksimal teknologi 5G.

Kepadatan Pengguna dan Network Congestion

Kecepatan internet tidak hanya ditentukan oleh teknologi jaringan, tetapi juga jumlah pengguna yang mengakses jaringan pada saat bersamaan.

Ketika terlalu banyak perangkat terhubung ke satu menara seluler, jaringan dapat mengalami network congestion atau kemacetan data. Kondisi ini mirip dengan jalan raya saat jam sibuk, di mana terlalu banyak kendaraan menyebabkan lalu lintas melambat.

Dalam kondisi tersebut, perangkat tablet yang terhubung ke jaringan 5G tetap bisa mengalami penurunan kecepatan meskipun sinyal terlihat penuh.

Latensi dan Bottleneck Jaringan

Selain kecepatan download, performa internet juga dipengaruhi oleh latensi atau waktu respons jaringan.

Beberapa faktor seperti jarak ke server, jalur routing data, hingga kualitas perangkat jaringan dapat meningkatkan latensi. Semakin jauh data harus berjalan melalui jaringan, semakin lama waktu responsnya.

Di sisi lain, bottleneck jaringan juga dapat terjadi ketika terlalu banyak trafik data melewati satu jalur tertentu, sehingga memperlambat aliran data ke pengguna. 

Hal ini membuat pengalaman penggunaan internet terasa lambat meskipun teknologi jaringan yang digunakan sebenarnya cepat.

Keterbatasan Perangkat Tablet

Performa jaringan juga dipengaruhi oleh chipset modem, RAM, dan optimasi perangkat pada tablet itu sendiri.

Jika tablet menggunakan modem 5G generasi lama atau prosesor kelas menengah, perangkat mungkin tidak mampu memanfaatkan bandwidth maksimal dari jaringan yang tersedia.

Selain itu, sistem operasi, aplikasi latar belakang, dan kapasitas penyimpanan yang hampir penuh juga dapat menurunkan performa internet di perangkat.

Tablet dengan koneksi 5G tidak selalu menjamin internet super cepat. Beberapa faktor seperti cakupan jaringan yang belum luas, keterbatasan spektrum, kepadatan pengguna, latensi jaringan, serta spesifikasi perangkat dapat membuat koneksi tetap terasa lambat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seiring ekspansi infrastruktur dan pelepasan spektrum baru oleh pemerintah dan operator, performa 5G diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.**